Kisah Anjing Pemilik 1,5 Juta Follower Medsos Dikira Hewan Liar, Dibunuh Jadi Santapan Restoran
BEIJING, iNews.id - Seekor anjing selebriti di China yang memiliki 1,5 juta pengikut di media sosial (medsos), dicuri. Bahkan anjing Border Collie bernama Chutou itu dibunuh untuk dijadikan santapan restoran.
Pencuri mengira Chutou sebagai anjing liar sehingga dilenyapkan. Padahal anjing berusia 8 tahun itu populer di media sosial China, memiliki akun medsos sendiri, karena kecerdasan dan semangatnya dalam melayani majikan.
Mengutip dari South China Morning Post (SCMP), pemilik anjing, disebutkan hanya bernama Guo, kini menuntut keadilan untuk setidaknya menuntut haknya atas hilangnya Chutou. Guo merupakan influencer travelling asal Provinsi Henan.
Dalam beberapa foto dan video di media sosial, Chutou terlihat menemani Guo melakukan perjalanan keliling China selama bertahun-tahun, termasuk pegunungan bersalju hingga gurun.
Beberapa posting-an Guo bahkan viral, menunjukkan Chutou menjaganya di luar tenda pada malam hari.
Anjing itu dibeli Guo dari pedagang kaki lima seharga 2.000 yuan pada 2018. Saat itu, anjing Chutou masih berusia 3 bulan.
Chutou hilang baru-baru ini dari rumah orang tua Guo. Dia menitipkan Chutou ke rumah orang tuanya karena dia melakukan perjalanan solo ke Georgia.
Pada 11 Mei, ayah Guo menyadari anjing itu hilang dari lahan pertanian keluarga. Berdasarkan rekaman CCTV, dua orang membawa Chutou pergi menggunakan sepeda listrik.
Setelah mendengar kabar tersebut, Guo mempersingkat perjalanannya dan kembali ke China untuk mencari Chutou.
Selang beberapa pekan, Guo berhasil mengidentifikasi pria yang diduga mencuri Chutou. Dia bahkan menawarkan 10.000 yuan kepada pelaku dan memintanya untuk mengembalikan anjing itu.
Betapa terkejutnya Guo begitu mendengar penjelasan dari sang pencuri. Dia mengatakan salah mengira Chutou sebagai anjing liar. Dia juga membantah mencuri, namun Chutoulah mengikutinya setelah dipanggil.
Namun, Guo tak memercayai penjelasan tersebut karena anjing peliharaannya mengenakan kalung dan alat pelacak. Terlebih, Chutou sedang beristirahat di lahan pertanian keluarganya saat dicuri.
Setelah itu, para pelaku mengakui Chutou dijual ke restoran daging anjing seharga 180 yuan.
Guo kemudian mencari restoran yang menyembelih Chutou. Dia berharap bisa mendapat sisa-sisa bangkai atau bulu anjing peliharaannya itu.
Namun, pemilik restoran mengatakan bulu Chutou dibuang ke tempat sampah sejak lama.
Merasa hancur, Guo melaporkan kasus ini ke polisi, bahkan menyerahkan bukti nilai pasar Chutou, dengan harapan masalah ini akan berujung pada tuntutan pidana.
Para pelaku bisa menghadapi dakwaan pencurian dengan ancaman hukuman maksimal 3 tahun jika nilai Chutou terbukti di atas 2.000 yuan.
Tidak ada undang-undang perlindungan hewan peliharaan di China. Hewan peliharaan dianggap sebagai harta benda dan perselisihan ditangani melalui perdata.
Editor: Anton Suhartono