Ketegangan dengan Iran Meningkat, AS Kerahkan Jet Tempur Siluman F-22 ke Qatar
WASHINGTON, iNews.id - Amerika Serikat (AS) mengerahkan pesawat tempur siluman F-22 ke Qatar untuk pertama kalinya, sehingga menambah jumlah kekuatan Amerika di Teluk, di tengah ketegangan dengan Iran.
Komando Pusat Militer Angkatan Udara AS menyatakan, jet siluman F-22 Raptor dikerahkan untuk menjaga kepentingan Amerika dan sekutunya, tapi tak disebutkan jumlah armada yang dikerahkan.
Namun foto menunjukkan ada lima jet F-22 Raptor yang terbang di atas Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar.
Ketegangan antara AS dan Iran meningkat sejak Presiden Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015. Keputusan itu diikuti dengan pemberlakuan sanksi ekonomi baru untuk Iran.
Tensi kembali memanas setelah Iran menembak jatuh drone AS di Selat Hormuz pada 20 Juni, setelah serangkaian serangan terhadap kapal tanker dari berbagai negara.
Para pemimpin kedua negara terlibat dalam perang kata-kata disusul dengan penerapan saksi terbaru AS untuk pejabat Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif.
Iran pun mengancam melepas komitmennya di bawah kesepakatan nuklir 2015, kecuali negara lain yang ikut meneken yakni Inggris, China, Prancis, Jerman, dan Rusia, tak ikut mematuhi sanksi AS, yakni tak mau membeli minyaknya.
Bulan lalu, Angkatan Udara AS mengerahkan beberapa unit pesawat pengebom B-52 Stratofortress berkemampuan nuklir ke Teluk.
Pada KTT G-20 di Osaka, Trump bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman. Setelah itu Gedung Putih menyatakan dalam posting-an Twitter bahwa Trump dan MBS membahas upaya untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran.
"Kedua pemimpin berkomitmen untuk mempertahankan pasar minyak internasional yang kuat dalam menghadapi perilaku Iran," bunyi pernyataan.
Sebagai perlawanan, Iran mengindikasikan tidak akan memproduksi uranium melebihi batas 300 kilogram sebagaimana tercantum dalam perjanjian nuklir.
Ancaman itu membuat negara lain yang ada dalam kesepakatan seperti Inggris, Prancis, dan Jerman untuk membuat sistem barter yang memungkinkan adanya transaksi perdagangan dengan Iran.
Editor: Anton Suhartono