Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Duh, 3 Remaja Saudara Kandung Bunuh Diri gegara Dilarang Main Game dan Nonton Drama Korea
Advertisement . Scroll to see content

Kasihan, Gajah-Gajah di India Stres karena Dikejar dan Diusir Manusia

Rabu, 27 Juni 2018 - 07:31:00 WIB
Kasihan, Gajah-Gajah di India Stres karena Dikejar dan Diusir Manusia
Gajah di India stres karena dikejar-kejar manusia dengan kendaraan maupun suara bising. (Foto: AFP)
Advertisement . Scroll to see content

NEW DELHI, iNews.id - Valparai merupakan daerah perbukitan yang berada di India selatan dan menjadi zona konflik antarspesies, yakni manusia dan gajah. Pada Agustus 2017, seorang pria berusia 60 tahun terinjak hingga tewas oleh gajah liar saat menghadiri pemakaman sepupunya.

Penduduk setempat melakukan protes dan menuntut tindakan. Dua gajah dilatih untuk mengusir gajah betina kembali ke hutan.

Media lokal melaporkan, lebih dari 100 warga desa menutup jalan raya untuk menyaksikan pengejaran dan pengusiran gajah yang berlangsung selama tiga jam. Pada akhirnya, gajah itu mati dan tak ada alasan resmi mengapa gajah tersebut akhirnya mati.

Menurut data terakhir yang diumumkan Pemerintah India, satu orang meninggal di India setiap hari akibat gajah atau macan.

Gajah-gajah juga banyak yang dibunuh, dan hewan yang selamat dari perburuan kebanyakan mati karena tertabrak kereta cepat, diracun, atau tersengat listrik. Bahkan gajah-gajah ini terus menerus dikejar dengan suara bising dan kendaraan-kendaraan atau yang dikenal dengan 'pengejaran dengan kendaraan'.

Menurut studi baru-baru ini, hal tersebut menyebabkan stres berkepanjangan bagi gajah liar Asia. Para peneliti dari Institute Sains Nasional di Bengaluru, India selatan, melakukan studi ini menggunakan kotoran gajah.

Selama lebih dari enam bulan, Sreedhar Vijay Krishnan dan rekan-rekannya mengumpulkan lebih dari 294 sampel dari 69 gajah liar di Valparai, di pegunungan Western Ghats. Mereka meneliti kotoran gajah yang dikejar dalam operasi 'pengejaran dengan kendaraan'.

Para peneliti memeriksa tingkat hormon mereka yang disebut glucocorticoid. Hewan yang stres akan mengeluarkan glucocorticoids. Hormon ini dilepaskan di sistem sirkulasi darah dan terbuang melalui kencing dan kotoran.

Sanjeeta Sharma Pokharel, peneliti dari Pusat Ekologi Sains, mengatakan, mengukur glucocorticoids menggunakan kotoran segar hewan merupakan cara yang lebih etis dalam mempelajari tingat stres gajah.

Cara lain yaitu dengan menggunakan sampel darah, namun mengumpulkan hewan juga akan meningkatkan stres.

Studi ini menunjukkan, tingkat stres gajah yang tinggal di kawasan yang didominasi manusia sama saja dengan hewan-hewan yang tinggal di hutan Vazhachal yang tak terganggu.

Namun, gajah-gajah ini tak dapat beradaptasi dengan stres akibat pengajaran dengan kendaraan. Pengajaran ini memanfaatkan suara bising guna mengusir gajah, seperti menggunakan genderang, klakson, dan mercon.

Sreedhar menyebut cara itu merupakan penyebab utama gajah menjadi stres. Setelah dikejar, gajah dewasa mengalami peningkatan stres hingga 40 persen lebih tinggi.

Namun, bayi-bayi gajah yang paling mengalami dampak terparah dengan peningkatan stres sebesar 100 persen.

"Interaksi negatif seperti ini yang menyebabkan stres dan dapat mempengaruhi keberlangsungan hidup gajah dan reproduksi," kata Vijaya Krishnan, seperti dilaporkan BBC.

Melihat hal ini, peneliti mendesak langkah yang lebih proaktif dalam mengusir gajah dan meminimalkan gangguan manusia, serta menciptakan tempat yang aman sehingga gajah bisa bergerak bebas.

Editor: Nathania Riris Michico

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut