Jumlah Korban Meninggal akibat Demam Berdarah di Singapura Samai Covid-19
SINGAPURA, iNews.id - Jumlah korban meninggal dunia akibat demam berdarah dengue (DBD) di Singapura sepanjang 2020 mencapai rekor tertinggi, yakni 28 orang.
Angka tersebut melampaui rekor kasus kematian akibat DBD sebelumnya yang terjadi 15 tahuh lalu yakni 25 orang. Selain itu kasus kematian akibat DBD sepanjang tahun ini sudah menyamai korban meninggal Covid-19, seperti dikutip dari The Straits Times, Rabu (14/10/2020).
Data Kementerian Kesehatan Singapura mengungkap, korban meninggal akibat DBD berusia antara 25 dan 92 tahun.
Dari total 28 kasus, 24 di antaranya pernah bekerja atau tinggal di klaster DBD aktif. Seperempat dari total kasus kematian terjadi dalam 5 pekan terakhir, yakni sejak 5 September.
Ilmuwan Singapura Temukan Varian Baru Hasil Mutasi Virus Corona, Lebih Jinak
Hingga Selasa, 176 klaster demam berdarah masih aktif di seluruh Singapura. Dari jumlah tersebut, satu superklaster dengan 300 atau lebih orang yang terinfeksi, masih aktif.
Wabah demam berdarah tahun ini adalah yang terburuk dalam sejarah Singapura, di mana ada 31.338 kasus yang dilaporkan dalam 41 pekan pertama, melampaui angka tertinggi sebelumnya pada 2013, yakni 22.170 orang.
Pelancong dari Indonesia kini Bisa Transit di Bandara Singapura
Singapura masih berada di pertengahan musim puncak demam berdarah tahunan, yang biasanya berlangsung antara Mei dan Oktober.
Cuaca lebih hangat membuat reproduksi nyamuk Aedes aegypti lebih cepat yang menyebarkan virus dengue, meningkatkan kemungkinan penularan demam berdarah.
Menteri Negara untuk Keberlanjutan dan Lingkungan Desmond Tan mengatakan, untuk menghindari lonjakan kedua infeksi sebelum akhir tahun ini, kasus-kasus harus diturunkan lebih dari setengahnya.
Di sisi lain Singapura masih menghadapi pandemi Covid-19. Data hingga Rabu menunjukkan ada penambahan harian lima kasus baru sehingga totalnya menjadi 57.889 kasus. Sebanyak 28 di antaranya meninggal dunia.
Singapura dipuji karena dianggap berhasil menekan kasus kematian. Meski kasus infeksi tinggi, namun jumlah kematiannya sangat rendah.
Editor: Anton Suhartono