Iran: Tawaran Damai Trump Hanya Sandiwara untuk Tenangkan Pasar
WASHINGTON, iNews.id - Tawaran damai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kepada Iran dinilai hanya sandiwara. Kecurigaan ini muncul seiring sikap keras Teheran yang menegaskan tidak akan lagi percaya pada Washington setelah serangkaian kegagalan negosiasi di masa lalu.
Portal berita Axios melaporkan, pemerintah Iran bahkan secara terbuka menyampaikan kepada negara-negara mediator bahwa tawaran pembicaraan damai dari Trump kemungkinan hanyalah manuver politik. Mereka menilai, peningkatan kehadiran militer AS di kawasan justru memperkuat dugaan bahwa ajakan negosiasi tidak tulus.
Seperti diketahui, negosiasi antara AS dan Iran terkait program nuklir telah gagal dua kali, yakni pada Juni 2025 dan kembali berujung konflik pada 2026 yang masih berlangsung hingga kini. Pengalaman tersebut menjadi alasan utama Iran menolak mempercayai komitmen baru dari Washington.
Laporan media menyebut Iran telah memberi tahu negara-negara seperti Pakistan, Mesir, dan Turki bahwa langkah-langkah militer AS yang terus meningkat membuat tawaran damai terlihat seperti taktik semata.
Trump Sembunyikan Sosok Calon Potensial Pemimpin Iran Berikutnya, Takut Dibunuh
Di sisi lain, Trump tetap bersikeras proses diplomasi sedang berjalan. Dia menyebut tim negosiasi AS melibatkan sejumlah pejabat tinggi, seperti Menteri Luar Negeri (Menlu) Marco Rubio, Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, serta penasihat senior Jared Kushner.
Trump: Tak Ada Orang yang Mau Pimpin Iran Selama Masih Dibom AS
Trump juga mengklaim kelanjutan pembicaraan pekan ini menunjukkan keseriusan Iran untuk mencari jalan keluar dari konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari.
Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Dia menegaskan, hingga kini belum ada pembicaraan resmi dengan AS.
Ghalibaf bahkan menilai klaim Trump soal negosiasi hanyalah upaya untuk menenangkan pasar global yang sedang bergejolak akibat konflik berkepanjangan. Situasi ini semakin mempertegas jurang ketidakpercayaan antara kedua negara, sekaligus mempersulit peluang tercapainya perdamaian dalam waktu dekat.
Editor: Anton Suhartono