Iran Gempur Uni Emirat Arab setelah Diserang AS, Ledakan Terdengar di Mana-Mana
WASHINGTON, iNews.id - Uni Emirat Arab (UEA) menjadi target serangan rudal dan drone, diduga kuat berasal dari Iran. Serangan itu berlangsung beberapa jam setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran terlibat saling serang pada Kamis malam hingga Jumat pagi (7-8/5/2026).
Otoritas UEA menyatakan sistem pertahanan udaranya menghadapi ancaman rudal dan drone dari Iran pada Jumat pagi.
"(Sistem pertahanan udara) Merespons ancaman rudal. Mohon tetap berada di lokasi aman dan ikuti informasi dari saluran resmi untuk peringatan dan informasi," bunyi pernyataan Otoritas Manajemen Krisis dan Bencana Darurat Nasional UEA, di media sosial X.
Kementerian Pertahanan UEA berupaya menenangkan warga dengan menyatakan, suara ledakan yang terdengar di penjuru wilayah merupakan hasil operasi pencegatan rudal dan drone.
AS Serang Iran, Ledakan Guncang Teheran
Belum diketahui pasti, apa yang menjadi target serangan terbaru Iran. Ini merupakan serangan kedua menargetkan UEA sejak AS dan Iran menyepakati gencatan senjata pada 7 April lalu. Serangan pertama menghantam Zona Industri Minyak Fujairah, memicu kebakaran besar.
Iran kerap menyerang UEA dan negara-negara Arab lainnya untuk mengincar pangkalan-pangkalan militer AS, sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Selat Hormuz Tegang! Iran Tembak 3 Kapal Perang AS
Sebelumnya markas besar militer Iran Khatam Al Anbiya menuduh AS melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal tanker minyak dan kapal lainnya. Bukan hanya itu, AS menggelar serangan udara terhadap wilayah sipil Pulau Qeshm dan daerah pesisir Bandar Khamir Sirik.
Sementara itu Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan, militernya menargetkan dua kapal perang AS yang berusaha memasuki Selat Hormuz dan menyerang wilayah Iran.
Mereka menyerang kapal-kapal perang AS di sebelah timur Selat Hormuz dan selatan pelabuhan Chabahar.
Serangan tersebut diklaim menimbulkan kerusakan signifikan terhadap kapal perang AS, namun Komando Pusat AS (Centcom) membantah dengan mengatakan tidak ada aset yang terkena serangan.
Editor: Anton Suhartono