Gencatan Senjata di Gaza Sulit Terwujud, Apa Penyebabnya?
YERUSALEM, iNews.id - Dunia internasional sudah menyerukan gencatan senjata kepada Israel dan Hamas untuk meredam konflik di Gaza. Peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menengahi konflik juga masih belum berdampak.
Korban sipil terus berjatuhan hingga mencapai lebih dari 11.000 orang gugur. Lobi-lobi pemimpin Arab hingga Eropa tidak mampu menghentikan kekejaman Israel di Gaza.
Melansir dari The Arab News, Minggu (12/11/2023), Majelis Umum PBB juga sudah digelar pada Oktober lalu tapi tidak menghasilkan dampak yang signifikan bagi Palestina.
Kesepakatan untuk gencatan senjata sulit diambil karena anggota Dewan Keamanan PBB dan 10 anggota tidak tetapnya terus memegang pandangan yang sangat berbeda tentang sumber dan cara mengatasi pertikaian.
London Jadi Lautan Manusia Lagi, 300.000 Orang Demo Dukung Palestina Kecam Israel
Amerika Serikat, Inggris, Prancis, China, dan Rusia merupakan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Lima anggota ini mempunyai kekuatan luar biasa untuk melakukan veto.
Negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan sebagian besar Eropa, terus fokus pada hak Israel untuk membela diri. Negara-negara Barat hanya mengutuk keras tindakan Hamas dan tidak memberi solusi bagi korban jiwa dari warga sipil.
Menlu AS Blinken: Terlalu Banyak Warga Sipil Palestina Terbunuh saat Israel Serang Gaza
Rusia menggunakan hak vetonya terkait konflik di Ukraina. Cara yang sama dipakai Amerika Serikat terkait konflik di Gaza.
Erdogan: Jangan Cuma Hamas, Israel Juga Harus Bebaskan Warga Palestina yang Ditawan
AS menolak bersepakat menjatuhkan sanksi kepada Israel. Presiden AS Joe Biden dengan tegas khawatir dengan kondisi Israel dan menyampaikan perlunya bantuan ke Israel untuk melawan terorisme.
AS telah memveto resolusi yang mengkritik Israel dan pendudukannya sebanyak 46 kali sejak berdirinya Israel. Jumlah itu paling banyak dibandingkan dengan negara lain.
AS selalu menempatkan keamanan Tel Aviv sebagai inti kepentingan nasional dan mendefinisikan Israel sebagai negara demokratis di Timur Tengah.
Editor: Muhammad Fida Ul Haq