Gempa Lombok Tewaskan 82 Orang, Australia Tawarkan Bantuan
SYDNEY, iNews.id - Gempa berkekuatan besar 7 Skala Richter (SR) mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan sekitarnya, menewaskan sedikitnya 82 orang dan melukai ratusan lainnya.
Gempa terjadi pada kedalaman 15 kilometer dan sempat memicu peringatan tsunami. Di Bali, sejumlah bangunan mengalami kerusakan, termasuk sebuah department store dan bandara.
Gempa terjadi pada Minggu (5/8/2018) petang di bagian utara Lombok. Kemudian disusul ratusan kali gempa susulan salah satunya dengan kekuatan 5,4 SR.
Menurut Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
Dwikorita Karnawati, peringatan tsunami dicabut setelah gelombang laut yang terjadi hanya setinggi 15 sentimeter tercatat di tiga desa.
Koresponden ABC News, David Lipson menyampaikan laporan saksi mata dari Kepulauan Gili, ratusan warga mengungsi ke tempat lebih tinggi.
"Warga mengenakan rompi keselamatan dan berkerumun dalam kegelapan dan berdoa setiap kali terjadi gempa susulan," kata Lipson.
Sebelumnya, pihak berwenang menjelaskan kebanyakan korban tewas berasal dari wilayah utara dan barat Lombok. Korban luka-luka sejauh ini masih didata.
Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull berjanji menghubungi Presiden Joko Widodo hari ini, Senin (6/8/2018) untuk menawarkan bantuan mengatasi dampak gempa.
"Kami selalu menghubungi tetangga ketika bencana alam terjadi," kata Turnbull.
Dia menambahkan, sejauh ini belum ada laporan mengenai warga Australia yang menjadi korban gempa.
"Jelas warga Australia turut terdampak. Mereka merasakan guncangan, termasuk Menteri Peter Dutton yang berada di Lombok menghadiri konferensi kontra-terorisme," ujar Turnbull.
"Setiap saat banyak warga Australia berada di Indonesia. Makanya pelayanan konsuler kami akan bertindak sekuat tenaga memastikan keselamatan warga Australia," kata dia, menambahkan.
Menteri Dalam Negeri Australia Peter Dutton menyebut, rombongannya dalam kondisi aman, namun harus dievakuasi dari hotel.
"Kami sangat berterima kasih kepada polisi dan pihak berwenang Indonesia serta Kepolisian Federal Australia," katanya dalam postingan di media sosial.
Konsul Jenderal Australia di Bali, Helena Studdert, menjelaskan warga Australia harus mengikuti instruksi dari pemerintah setempat selama keadaan darurat.
Seorang warga Australia Don Finlayson yang berada di Sanur, Bali, mengaku turut merasakan gempa. Bersama rekannya, dia sedang berada di sebuah restoran saat gempa terjadi.
"Mejanya bergoyang, dan sejenak kemudian orang berteriak gempa, kita harus keluar dari sini," tuturnya.
Sebelumnya diberitakan, gempa Lombok menewaskan sedikitnya 82 orang dan menyebabkan ratusan orang terluka. Gempa juga mengakibatkan ribuan bangunan rusak.
Editor: Nathania Riris Michico