Blak-blakan, Kanselir Jerman Sebut AS Kalah Strategi dari Iran dalam Negosiasi
BERLIN, iNews.id - Kanselir Jerman Friedrich Merz secara blak-blakan menyebut Amerika Serikat (AS) kalah strategi dari Iran dalam negosiasi. Dia menilai pendekatan Washington dalam perundingan damai di Timur Tengah tidak cukup kuat.
Merz bahkan memuji kematangan diplomasi Iran. Dia menilai langkah-langkah yang diambil Teheran dalam proses negosiasi jauh lebih efektif dibandingkan pendekatan yang dilakukan Washington.
"Amerika, tampaknya kekurangan strategi yang benar-benar meyakinkan untuk negosiasi," kata Merz, dalam pertemuan dengan mahasiswa, dikutip dari Sputnik, Selasa (28/4/2026).
Melihat perkembangan mandeknya perundingan damai, Merz tidak mengesampingkan kemungkinan AS terjebak dalam konflik Timur Tengah dalam waktu yang panjang.
Kanselir Jerman Friedrich Merz Akui Negara-Negara Barat Terlalu Meremehkan Iran
Terlebih lagi, kata Merz, Iran tak mau tunduk dengan keinginan AS yang membuat perundingan tak menunjukkan kemajuan apa pun.
Perundingan damai AS-Iran putaran pertama di Pakistan pada 11-12 April tak membuahkan hasil. Dua isu penting yang mengganjal adalah program nuklir dan blokade Selat Hormuz.
Trump Batalkan Kunjungan Utusan ke Pakistan, Pertemuan AS-Iran Gagal
Pembicaraan lanjutan pun tak jelas kapan akan digelar. Iran menegaskan tak akan mau berunding selama AS memblokade pelabuhan-pelabuhanya di Selat Hormuz.
Merz juga mengakui negara-negara Barat meremehkan kekuatan Iran. Menurut dia, realitas di lapangan menunjukkan Iran jauh lebih kuat daripada perkiraan awal, baik dari sisi ketahanan menghadapi tekanan maupun dalam kemampuan bernegosiasi.
Sebagai informasi, konflik memanas setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan besar serta korban sipil lebih dari 3.300 orang.
Gencatan senjata kemudian mulai berlaku pada 7 April selama dua minggu, sebelum akhirnya diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump. Perpanjangan itu dilakukan dengan syarat Iran menyerahkan proposal damai terpadu, meski hingga kini perundingan masih belum menunjukkan titik terang.
Editor: Anton Suhartono