Berikut Isi Surat Joe Kent, Pejabat Intelijen AS yang Mundur gegara Tak Setuju Perang Iran
WASHINGTON, iNews.id - Pengunduran diri pejabat intelijen senior Amerika Serikat (AS) memicu perhatian luas. Joe Kent mundur dari jabatannya, Selasa (17/3/2026), karena tak setuju dengan perang melawan Iran, bahkan mengungkap isi surat pengunduran diri yang menyoroti alasan di balik konflik tersebut.
Dalam suratnya, Kent secara tegas menyatakan penolakannya terhadap perang. Dia menyebut tidak bisa lagi mendukung kebijakan yang menurutnya tidak didasarkan pada ancaman nyata terhadap AS. Dia menjabat sebagai Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional.
“Setelah banyak pertimbangan, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan saya sebagai Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional, efektif hari ini,” tulis Kent, di media sosial X.
Dalam surat yang dilampirkannya, Kent mengungkap alasan utama pengunduran dirinya.
Mundur, Bos Badan Intelijen AS Blak-blakan Perang Iran Akibat Tekanan Israel
“Saya tidak bisa menggunakan hati nurani yang baik, mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran. Iran tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap negara kita, dan jelas bahwa kita memulai perang ini karena tekanan dari Israel dan lobi AS yang kuat,” ujarnya.
Mengejutkan! Bos Badan Intelijen AS Mundur gegara Tak Setuju dengan Perang Iran
Presiden AS Donald Trump menyebut Iran sebagai ancaman langsung bagi negaranya. Sejumlah pejabat lain juga menyatakan serangan AS sejak 28 Februari dilakukan sebagai langkah pencegahan terhadap potensi serangan Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah.
Namun pernyataan tersebut bertentangan dengan penjelasan Pentagon kepada Kongres yang menyebut Iran tidak berencana menyerang, kecuali jika diserang terlebih dahulu.
Trump juga menyampaikan alasan yang berubah-ubah terkait serangan ke Iran, mulai dari melindungi demonstran anti-pemerintah, mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir dan rudal jarak jauh, hingga menggulingkan rezim yang dituduh mendukung terorisme.
Bahkan, Trump turut menyerukan kepada rakyat Iran untuk melakukan perlawanan dan merebut pemerintahan mereka.
Editor: Anton Suhartono