AS Akui Rudal Iran Makin Canggih, Gagal Dicegat Sistem Pertahanan
WASHINGTON, iNews.id - Amerika Serikat (AS) mengakui rudal Iran kini semakin canggih sehingga mampu menembus sistem pertahanan udara dan lolos dari upaya pencegatan. Kemampuan tersebut menjadi sorotan setelah serangan rudal Iran menghantam Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania pada pekan lalu, menewaskan tiga personel militer AS dan melukai sejumlah lainnya.
Laporan CBS News menyebut peningkatan kemampuan rudal Iran menjadi tantangan baru bagi militer AS di Timur Tengah. Hal itu menunjukkan sistem pertahanan udara AS maupun negara sekutunya tidak selalu mampu mendeteksi ataupun mencegat rudal yang diluncurkan Teheran.
Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio mengakui tidak semua rudal Iran berhasil dihentikan. Menurut dia, satu rudal berhasil lolos dari sistem pertahanan.
"Sebuah rudal berhasil lolos. Kami menembak jatuh hampir semua rudal. Satu rudal luput, ini sangat menyedihkan," ujarnya, seperti dikutip, Kamis (23/7/2026).
Serangan terhadap Pangkalan Udara Muwaffaq Salti pada Jumat pekan lalu menjadi salah satu insiden paling mematikan bagi militer AS dalam konflik terbaru. Dua korban tewas telah dievakuasi, sementara satu personel yang sebelumnya dinyatakan hilang dipastikan meninggal akibat serangan rudal balistik tersebut.
CBS News juga melaporkan serangan itu bukan insiden tunggal. Pangkalan militer yang sama telah diserang dua kali dalam kurun 48 jam dan menyebabkan puluhan personel mengalami luka-luka.
Menurut laporan tersebut, rudal berpemandu presisi Iran berulang kali mampu menembus sistem pertahanan rudal milik Yordania maupun AS.
Juru Bicara Komando Pusat AS (Centcom), Tim Hawkins, mengatakan pasukan AS bersama sekutunya telah mencegat puluhan rudal dan drone Iran yang mengarah ke negara-negara Teluk sejak 17 Juli. Namun, dia mengakui tidak semua proyektil berhasil dihentikan.
Departemen Pertahanan (Pentagon) mengonfirmasi hampir 100 personel militer AS mengalami luka-luka akibat serangan Iran di berbagai pangkalan di Timur Tengah sepanjang bulan ini, belum termasuk korban dalam serangan terbaru di Yordania.
Editor: Anton Suhartono