Aksi Mogok Ribuan Dokter di Korsel, Petugas Bakal Sweeping Rumah Sakit
SEOUL, iNews.id - Pemerintah Korea Selatan (Korsel) akan mulai menindak dokter-dokter yang terlibat aksi mogok kerja. Petugas akan mendatangi rumah sakit-rumah sakit untuk mengambil tindakan hukum terhadap dokter yang mangkir dari tugas.
Mereka yang mengabaikan perintah untuk kembali bekerja akan diproses hukum, bahkan bisa dijatuhkan hukuman penjara.
Sekitar 9.000 dokter magang dan residen melakukan aksi mogok sejak 20 Februari lalu untuk memprotes rencana pemerintah menambah kuota mahasiswa kedokteran, yakni dari 2.000 menjadi 3.000 pada 2025.
Jumlah dokter yang mogok tersebut mewakili 70 persen dari total dokter di Korsel. Aksi mogok para dokter menyebabkan pembatalan operasi di beberapa rumah sakit besar serta antrean panjang di unit gawat darurat.
Ribuan Dokter di Korsel Lanjutkan Aksi Mogok, Pasien RS Makin Telantar
Menteri Kesehatan Korsel Cho Kyoo Hong mengatakan, pemerintah telah memperingatkan para dokter yang melakukan unjuk rasa bahwa mereka akan menghadapi sanksi administratif dan hukum, termasuk pencabutan izin praktik, denda, sampai hukuman penjara jika tidak kembali bekerja sampai akhir Februari lalu.
“Mulai hari ini, kami berencana melakukan inspeksi di lokasi untuk memastikan dokter peserta pelatihan yang belum bertugas serta mengambil tindakan sesuai etika dan aturan hukum tanpa terkecuali,” kata Cho, dikutip dari Reuters, Senin (4/3/2024).
Kacau! 7.000 Dokter di Korsel Mogok, Ruang UGD RS Penuh hingga Operasi Dibatalkan
"Patut diingat, dokter yang belum kembali bertugas akan mengalami masalah serius terhadap karier mereka," katanya, mengancam.
Bagi para dokter yang ikut mogok namun sudah kembali bertugas, kata Cho, pemerintah akan mempertimbangkan peringanan hukuman.
Di kesempatan terpisah, Wakil Menteri Kesehatan Park Min Soo mengatakan, pemerintah akan mengambil beberapa langkah, termasuk mencabut izin praktik medis kepada sekitar 7.000 dokter peserta pelatihan yang mogok.
Sementara itu para pasien rumah sakit besar mulai khawatir atas konflik para dokter dengan pemerintah. Mereka menilai kebuntuan yang berkepanjangan ini akan berdampak luas terhadap pelanan medis seraya menyerukan agar masalah ini diselesaikan dengan segera.
“Dokter pertama-tama harus kembali dan meyakinkan pasien dan keluarga mereka, kemudian berdialog dengan pemerintah,” kata seorang pasien di sebuah rumah sakit Kota Seoul yang hanya menyebutkan nama belakangnya Song.
Lee Hye Ji (37), seorang pasien cuci darah, mengkhawatirkan pelayanan kesehatan terhadap dirinya memburuk.
“Saya akan sangat cemas jika saya harus menjalani operasi transplantasi ginjal, tapi tidak ada dokter yang ada," ujarnya.
Editor: Anton Suhartono