7 Negara Kaya Raya yang Kini Jatuh Miskin, Kok Bisa?
JAKARTA, iNews.id - Negara kaya raya yang kini jatuh miskin ternyata dialami oleh beberapa wilayah. Mengapa hal itu bisa terjadi? Apa sebabnya? Baca informasinya di sini untuk tahu jawabannya.
Latvia menjadi negara kaya raya yang kini jatuh miskin. Negara di Eropa Utara ini diketahui bebas dari penjajahan pada tahun 1918 dan menjadi kaya raya bahkan melebihi tetangganya, yakni Rusia, Denmark dan Finlandia.
Kekayaan tersebut didapat dari kegiatan ekspor kayu dan hasil bumi. Namun tak berselang lama, akibat perang dunia kedua negara ini diduduki Rusia serta Nazi Jerman dan mengalami kemalangan hingga akhirnya merdeka kembali di tanggal 4 Mei 1990.
Negara Kuba menganut sistem komunisme yang berdampak kemiskinan berkepanjangan. Padahal, pada saat itu ada pemberian hak publik, seperti fasilitas rumah, kesehatan dan transportasi namun tetap tak merubah keadaan tersebut.
10 Fakta Unik Negara Finlandia, Negara Paling Bahagia di Dunia
Akhirnya, di bawah kepemimpinan Fidel Castro negara ini menjadi yang termasyhur di Amerika Utara. Fidel diketahui berhasil memanfaatkan gula dan objek wisatanya untuk mendatangkan pundi-pundi uang.
Sayang, di era 1950-an negara ini mengalami perbedaan tingkat kekayaan dan membuat negara ini tersiksa di bawah pimpinan Fulgencio Batista. Hal ini semakin diperparah dengan munculnya jual-beli narkoba, maraknya kekerasan seksual, dan kejahatan lain juga melanda di sana.
8 Fakta Unik Negara Belanda, Salah Satunya Jadi Bangsa yang Impor Narapidana
Kemudian, di tahun 1953-1959 revolusi Kuba terjadi. Hal ini berdampak pada penyitaan barang dari negeri Paman Sam (Amerika) sampai 1990-an. Akhirnya, Kuba mulai membangun kekuatan kembali di bawah pimpinan Raul Castro atau adik dari mendiang Fidel Castro.
Negara kaya raya yang kini jatuh miskin selanjutnya adalah Venezuela. Negara ini merupakan bagian dari negara adidaya Amerika Serikat yang mengandalkan pendapatan negara dari ekspor minyak hingga 90 persen.
Namun, pada tahun 2014 terjadi penurunan harga minyak sehingga komoditas pokok di Venezuela mengalami kenaikan harga sangat drastis. Selanjutnya di tahun 2018 terjadi penurunan nilai tukar uang yang sangat rendah.
Negara di bagian Afrika Satan ini pernah mengalami kesuksesan di tahun 1980.
Namun karena kekeliruan dalam pengaturan sumber daya membuat Zimbabwe
menderita dan kekurangan bahan makanan.
Terjadi juga korupsi di mana-mana, serta turunya nilai mata uang. Padahal pada masa emasnya, Zimbabwe sebagai tempat penghasil pangan terbesar di Afrika dan pembuat berlian bermutu tinggi.
Meluncurnya negeri ini ke jurang kemiskinan membuat terjadinya kudeta militer dan mengakibatkan Presiden Robert Mugabe yang telah berkuasa selama 4 dekade menjadi tahanan rumah. Pada akhir 1990 hingga 2000-an pemerintah merebut tanah pertanian hak penduduk dan diserahkan kepada pemilik baru.
Sayang, si pemilik tanah baru tersebut tidak mempunyai keahlian dalam bercocok tanam, dan membuat perolehan anjlok. Dampak paling mengerikan yang membuat negara kaya raya yang kini jatuh miskin tersebut adalah terjadinya hiperinflasi dan penambahan jumlah pengangguran mencapai 95 persen.
Menjadi negara termasyhur membuat Mali mengalami perkembangan dalam hal
pendidikan, perdagangan, serta kebudayaan. Masa keemasan ini terjadi pada saat naiknya Raja Mansa Musa I yang memimpin di tahun 1312 sampai 1337.
Saat itu, Mali menjadi negara kekaisaran terbesar di Afrika dengan kekayaan setengah persedian emas di dunia, serta melakukan bisnis jual beli dengan Persia, Mesir, Venesia dan Genoa. Namun, di abad ke-16 kesuksesan tersebut terus menerus turun dan menyebabkan Mali masuk dalam daftar negara miskin.
Mungkin nama ini terkesan baru terdengar, namun negara kecil dengan luas wilayah 20,98 km persegi ini berlokasi di dekat samudra pasifik. Nauru merupakan negara kaya raya yang kini jatuh miskin karena sebuah keteledoran.
Bahkan saat ini, negara tersebut harus bergantung ke tetangganya, yaitu Australia. Pada tahun 1980-an Nauru mengalami masa keberhasilan karena memiliki kekayaan alam berupa fosfat berkualitas terbaik. Fosfat merupakan pupuk dari kotoran burung yang telah lama mengendap setelah bertahun-tahun.
Bahan penghasil pupuk ini membuat Nauru mencapai pendapatan tertinggi di dunia, hingga mengalahkan Amerika Serikat yang memiliki penghasilan US$12,5. Dengan nilai US$27, negara ini mulai goyah ke kehidupan serba glamor dan segala fasilitas penduduk digratiskan seperti pendidikan, transportasi, kesehatan dan bahkan pajak tidak diberlakukan.
Para anak muda di sana bahkan dikirim ke Australia untuk mengenyam pendidikan terbaik, yang 100 persen dibiayai oleh pemerintah. Tetapi, karena pendayagunaan berlebihan untuk Fosfat sampai di ekspor ke Selandia Baru, serta Australia lama-kelamaan keberadaannya mulai menipis dan menyisakan hasil galian tambang dimana-mana.
Alhasil, hal tersebut membuat Nauru menyuruh para warganya agar pindah dengan alasan kekurangan lahan dan kurang layak untuk ditinggali. Negara ini pun menjadi tempat pencucian uang dunia, dan ikut serta dalam membiayai terorisme sehingga diberikan sanksi keras dan mengalami kemunduran.
Negara kaya raya yang kini jatuh miskin terakhir adalah Irak. Negara ini dahulu merupakan penghasil minyak bumi ke-2 dalam lembaga OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) yang merupakan perusahan pengekspor minyak di dunia sehingga kaya raya.
Masa kejayaan Irak terjadi di tahun 1960-1970-an. Pemerintah memberikan segala fasilitas
gratis hingga memiliki bidang kesehatan tercanggih di zamannya. Bahkan majalah Forbes pernah mencatat setiap orang di Irak bisa memperoleh pendapatan dari minyak sebanyak US$515.382 atau setara dengan Rp6,7 miliar.
Namun, adanya permasalahan antara Irak dan Iran pada tahun 1980 sampai 1988 dan pertentangan dengan Amerika di tahun 2003 hingga 2011. Serta, pemakzulan presiden Saddam Husein yang telah menduduki kursi pemerintahan selama kurang lebih 24 tahun lamanya menjadikan negara ini mengalami kemunduran.
Itulah negara kaya raya yang kini jatuh miskin. Semoga kejadian tersebut bisa dijadikan pelajaran untuk kita agar terus menjadi lebih baik ya.
Editor: Puti Aini Yasmin