Menyusuri Perjalanan Hidup Rasulullah di Museum Biografi Nabi Muhammad di Makkah
MAKKAH, iNews.id – Sejenak napas tertahan. Bibir berasa tercekat. Dalam diam dan termangu, mata memandang layar LED lebar yang menyajikan gambar berteknologi imersif. Seperti lini masa, layar silih berganti menunjukkan gambar demi gambar.
"Di sini Nabi Muhammad SAW lahir, rumah kakek beliau, Abdul Muthalib." Suara perempuan memecah ruang, Minggu (24//2026) sore. Persis ketika berbicara, layar menunjukkan gambaran rumah sederhana khas perkampungan Arab Saudi masa lampau.
Perempuan tersebut, salah satu pemandu Museum Internasional Biografi Nabi Muhammad. Kepada rombongan jurnalis dari berbagai negara yang diundang Kementerian Media Arab Saudi, dia mengajak untuk menelusuri ruang demi ruang.
Ibarat lorong waktu, Museum Biografi Nabi Muhammad menyeret kembali siapa pun yang datang ke era Rasulullah mulai sejak kelahiran, menerima wahyu, dakwah keislaman, hijrah ke Madinah hingga wafat. Sebelum masa itu, digambarkan pula silsilah nabi-nabi terdahulu.

Museum yang terletak di kompleks Clock Tower (Abraj Al Bait) Makkah, Arab Saudi dan tak jauh dari Masjidil Haram ini menjadi destinasi baru bagi para jemaah haji maupun umrah. Pemerintah Saudi menyebut museum ini sebagai mercusuar pengetahuan sekaligus memberikan pengalaman bagi pengunjung untuk menelusuri kehidupan, ajaran dan akhlak mulia Rasulullah.
Pintu masuk museum ditandai dengan tulisan dari LED hijau “The International Museum of the Prophet's Biography”. Begitu melangkahkan kaki, umumnya pengunjung berombongan akan lebih dahulu berhenti ruang tunggu.
Para pemandu yang merupakan ahli dalam budaya Islam dan biografi Nabi akan memberikan sedikit briefing tentang ketentuan/aturan dan menjelaskan singkat mengenai isi museum.
Yang membuat kagum bukan hanya kedalaman dan detail gambaran jejak Rasululullah, namun juga teknologi imersif dan layar interakif pada 30 paviliun (ruang) di museum ini. Setiap paviliun menampilkan gambar yang tampak begitu nyata dalam pola tiga dimensi.
Lebih dari itu, isi museum disajikan dalam enam bahasa termasuk Indonesia. Sebagai contoh pada pavilun tentang mimbar kayu bertingkat tiga yang digunakan Rasulullah. Kemudian, replika batang pohon kurma.
Pada layar saat Bahasa Indonesia dipilih, tulisan yang muncul adalah “pohon kurma yang bersedih dan Nabi SAW yang pengasih”.
Dalam layar juga tertera keterangan, “Nabi SAW menyandarkan punggungnya ke batang pohon kurma. Batang pohon kurma itu dijadikan sebagai atap dan tiang Masjid Nabawi yang mulia.”
Terdapat pula semacam bioskop mini yang memutar keluarga Rasulullah dan kehidupan sepeninggal hati. Layar lebar itu tampak begitu hidup sehingga menggugah hati.
Dengan segala interaktif dan gambaran yang indah tiap bagian, tak mengherankan banyak pengunjung sesaat terpatung dan larut menyelami titik demi titik kehidupan Rasulullah, manusia paling mulia di muka bumi. “I’m impressed,” puji Imran asal Karachi, Pakistan.
Editor: Maria Christina