Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Read Next : Serang Venezuela, Trump Ingin Kuasai Minyak?
Advertisement . Scroll to see content
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id -  Ratusan orang dilaporkan tewas, bangunan dan masjid terbakar, Iran kini berada di titik paling genting dalam sejarah terbarunya. Gejolak besar ini bermula pada 1 Januari 2026 di Teheran, saat ribuan warga turun ke jalan memprotes kondisi ekonomi yang kian memburuk. Inflasi melonjak, pengangguran tinggi, harga bahan pokok tak terkendali, dan pemerintah dinilai gagal menjaga kesejahteraan serta menutup ruang kritik.

Awalnya aksi berlangsung damai dengan tuntutan perbaikan ekonomi dan kebebasan berpendapat. Namun situasi berubah drastis ketika demonstrasi meluas ke lebih dari 100 kota dan bentrokan tak terhindarkan. 
Gedung pemerintah dibakar, kendaraan dirusak, fasilitas umum hancur, sementara Teheran dan kota-kota lain berubah menjadi zona konflik. 

Keputusan pemerintah memutus internet nasional justru memicu kemarahan lebih besar, korban tewas melonjak, ribuan orang ditangkap, dan ancaman hukuman berat dilontarkan kepada para demonstran.

Krisis ini menjadi sorotan dunia setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keprihatinan serius dan membuka kemungkinan tindakan jika kekerasan terhadap warga sipil berlanjut. Pernyataan tersebut dibalas keras oleh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang menegaskan penolakan terhadap tekanan dan campur tangan asing.

Editor: Komaruddin Bagja

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut