JAKARTA, iNews.id - Amerika Serikat memblokade Selat Hormuz dengan mengerahkan lebih dari 15 kapal perang setelah perundingan damai dengan Iran gagal. Langkah ini langsung meningkatkan tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tersebut pada Senin (13/6/2026). Armada militer AS kini aktif mencegat kapal yang masuk dan keluar dari jalur perairan strategis tersebut.
Jerman Gagal Peroleh Kursi di Dewan Keamanan PBB untuk Pertama Kali
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Banyak kapal tanker minyak melintas di kawasan ini sehingga setiap gangguan berpotensi berdampak global.
Blokade dilakukan setelah upaya diplomasi antara AS dan Iran menemui jalan buntu. Perundingan damai yang digelar sebelumnya gagal mencapai kesepakatan.
Pakistan, Turki Berusaha Cegah Perang Lanjutan Iran Vs Israel-AS: Pintu Belum Tertutup!
Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan operasi ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Presiden Donald Trump. Militer AS diperintahkan untuk mengendalikan lalu lintas di kawasan tersebut.
AS mengerahkan satu kapal induk sebagai kekuatan utama. Selain itu, beberapa kapal destroyer dan kapal serbu amfibi juga turut diterjunkan.
Nah! Kapal Induk AS Terpaksa Berlayar Memutar Jauh Lewat Afsel Hindari Bentrok dengan Iran
Dalam operasi ini, AS juga akan mencegat kapal yang diduga telah membayar biaya kepada Iran. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menekan pengaruh Iran di kawasan.
Selat Hormuz memiliki peran vital dalam distribusi energi global. Setiap gangguan di wilayah ini berpotensi memengaruhi harga minyak dunia. Hingga kini, belum ada tanda-tanda meredanya ketegangan antara AS dan Iran.
AS Siapkan Serangan Besar ke Iran, Blokade Selat Hormuz Picu Krisis Global
Editor: Donald Karouw