JAKARTA, iNews.id – PT Elnusa Petrofin (EPN) memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dengan memperluas program Hutan Petrofin melalui penanaman 2.250 pohon di 23 kota di Indonesia. Langkah ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam memperkuat ruang hijau di sekitar wilayah operasional distribusi energi sekaligus mendukung mitigasi perubahan iklim.
Program Hutan Petrofin telah dijalankan sejak 2022 dan terus berkembang setiap tahun. Hingga akhir 2025, sebanyak 9.292 pohon telah ditanam di berbagai daerah operasional perusahaan dari wilayah barat hingga timur Indonesia. Dengan penambahan tahun ini, jumlah pohon yang menjadi bagian dari Hutan Petrofin mencapai 11.542 pohon.
Penanaman dilakukan secara serentak melalui kolaborasi antara perwira Elnusa Petrofin, pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat setempat. Kegiatan tersebut diperkirakan memiliki potensi penyerapan karbon sebesar 23,6 ton CO₂e. Kontribusi itu menjadi bagian dari dukungan perusahaan terhadap agenda dekarbonisasi nasional dan target Net Zero Emission 2060.
Berbagai jenis pohon dipilih sesuai karakteristik wilayah, mulai dari trembesi yang memiliki kemampuan menyerap karbon tinggi, mangrove untuk menjaga kawasan pesisir, hingga tanaman produktif yang diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pendekatan tersebut tidak hanya menghadirkan fungsi ekologis, tetapi juga mendorong terciptanya nilai sosial yang berkelanjutan di lingkungan sekitar.
Manager Corporate Communication & Relations Elnusa Petrofin, Putiarsa Bagus Wibowo, mengatakan program tersebut diharapkan menjadi warisan lingkungan yang terus berkembang bersama masyarakat. “Kami ingin Hutan Petrofin dikenal bukan sebagai program penanaman pohon tahunan, melainkan sebagai warisan lingkungan yang terus bertumbuh bersama masyarakat,” ujarnya. Menurutnya, setiap pohon yang ditanam merupakan bagian dari upaya membangun masa depan yang lebih hijau sekaligus mendukung agenda keberlanjutan nasional dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya penanganan perubahan iklim.
Editor: Yudistiro Pranoto