JAKARTA, iNews.id - Kemudahan akses teknologi membuat investasi semakin menjadi bagian dari perencanaan keuangan masyarakat. Aktivitas investasi kini dapat dijangkau berbagai kalangan, tidak lagi terbatas pada investor bermodal besar maupun mereka yang memiliki pengalaman panjang di sektor keuangan. Di tengah kondisi pasar yang dinamis, masyarakat diingatkan untuk tetap mengelola keuangan secara bijak dan menyisihkan dana investasi secara terukur sesuai kemampuan.
Perencana keuangan Lolita Setyawati CFP®, RIFA®, menilai minat masyarakat terhadap investasi telah mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya banyak investor mengejar keuntungan cepat, kini semakin banyak yang mempertimbangkan kesesuaian produk dengan profil risiko, tujuan keuangan, serta transparansi pengelolaannya. “Yang paling penting adalah mengenali tujuan investasi dan toleransi terhadap risiko,” ujar Lolita.
Menurutnya, sebelum mulai berinvestasi, masyarakat perlu memastikan kondisi keuangan dasar telah aman, termasuk memiliki arus kas yang sehat dan dana darurat. Ia menyarankan dana darurat idealnya setara enam kali pengeluaran bulanan, meski dapat dimulai dari dua hingga tiga kali pengeluaran. Selain itu, investasi sebaiknya menggunakan “uang dingin” dan bukan berasal dari dana pinjaman maupun kebutuhan pokok. Lolita juga mengingatkan masyarakat untuk memilih instrumen yang legal dan logis, serta memahami bagaimana dana investasi dikelola.
Di tengah bertambahnya pilihan instrumen, platform investasi berbasis ekonomi riil mulai menjadi perhatian investor. Melalui Amartha Prosper, masyarakat dapat berinvestasi sekaligus terhubung dengan pembiayaan produktif bagi UMKM perempuan di perdesaan. Salah satu produknya, Grassroots Growth Series (GGS), menyalurkan investasi kepada mitra usaha di lebih dari 50 ribu desa di Indonesia dengan beragam sektor usaha. Produk tersebut menawarkan sejumlah profil investasi, mulai dari Balanced-Flex, Balanced, Progressive, hingga Dynamic, yang disesuaikan dengan karakteristik dan toleransi risiko investor.
Chief Funding Officer Amartha, Julie Fauzie, mengatakan investasi pada sektor riil dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas, terutama dalam memperkuat pembiayaan UMKM. “Masyarakat tidak hanya memperoleh potensi imbal hasil, tetapi juga turut mendukung pembiayaan produktif UMKM perempuan,” ujarnya. Selama lebih dari 16 tahun, Amartha mencatat telah menyalurkan pembiayaan lebih dari Rp47 triliun kepada lebih dari empat juta UMKM perempuan di perdesaan. Pada 2025, dukungan tersebut disebut mendorong terciptanya sekitar 90 ribu lapangan kerja baru, dengan 86 persen di antaranya diisi oleh perempuan. Menurut Julie, investasi semacam ini dapat menjadi alternatif diversifikasi portofolio sekaligus memperluas akses pembiayaan bagi sektor riil yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Editor: Yudistiro Pranoto