Harry Moekti Rocker Era 1980-an Memilih Jalan Hidup sebagai Pendakwah hingga Tutup Usia
JAKARTA, iNews.id - Bagi generasi 1980-an, nama Harry Moekti pasti sudah tidak asing lagi di telinga. Sosoknya begitu terkenal karena jalan hidup yang dia pilih. Harry Moekti yang awalnya dikenal sebagai rocker ini akhirnya memilih menjadi pendakwah agama Islam di tahun-tahun terakhirnya.
Terlahir dengan nama Hariadi Wibowo di Cimahi, Jawa Barat, 25 Maret 1957. Harry adalah anak yang tumbuh besar di Cimahi dan Bandung namun harus ikut bersama ayahnya yang seorang tentara untuk pindah tugas ke kota Semarang.
Dilansir dari berbagai sumber, Minggu (5/9/2021), perjalanan hidup Harry sebelum menjadi rocker terbilang unik. Dia sempat menjadi room boy di sebuah hotel. Pada akhirnya kehidupannya di Semarang yang menjadi menjadi pintu gerbangnya memasuki dunia musik Indonesia.
Harry sempat membentuk sebuah band bernama Darodox, diambil dari kata nderedeg yang dalam bahasa Jawa berarti gemetar, bersama kawan-kawan barunya di Semarang. Sayangnya saat band mulai terbentuk, Harry harus kembali ke Bandung pada1980 setelah ayahnya meninggal dunia.
Mengenang Gito Rollies Rocker Top Era 1970-an, Tinggalkan Alkohol dan Narkoba di Usia 50 Tahun
Saat di Bandung, Harry pun melanjutkan kariernya dalam bidang musik. Dia sempat bergabung dengan Orbit Band, Primas Band, dan New Bloody Band. Pada 1982, Harry pun merantau ke Jakarta dan bergabung bersama Makara. Sayangnya lagi, band harus bubar ketika Harry mulai melakukan rekaman solo.
Berat Badan Turun 21 Kg, Ivan Gunawan Bahagia Naik Pesawat Tak Perlu Sabuk Pengaman Ekstra
Nama Harry pun mulai melejit di dunia musik semenjak dia bergabung dengan grup musik Krakatau pada 1985. Akhirnya, Harry merilis beberapa rekaman yang berhasil sukses di pasaran seperti Lintas Melawai, Ada Kamu, Aku Suka Kamu Suka, dan Satu Kata.
Namun, pada 1995 Harry sempat menyadari bahwa hidupnya dipenuhi oleh amarah dan dengki, sehingga akhirnya dia bertemu dengan seorang pemuka agama yang memberinya pencerahan. Tak lama berobat bersama sang ustad, dia pun memutuskan untuk mundur dari dunia musik dan mendalami profesi pendakwah sebagai bagian dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
Selama lebih dari 20 tahun, Harry berubah haluan dari dunia musik yang telah melejitkan namanya. Sampai akhirnya Harry dipanggil Yang Maha Kuasa pada 24 Juni 2018 karena serangan jantung. Harry meninggal di usia 61 tahun dan dimakamkan di Ciawi, Bogor.
Editor: Elvira Anna