Ibadah Kurban, Ini Bagian Daging Kambing yang Disukai Nabi Muhammad SAW
JAKARTA, iNews.id - Kabing atau domba (Gibas) merupakan hewan yang banyak dipilih untuk kurban pada Hari Raya Idul Adha. Nabi Muhammad SAW sangat menyukai daging kambing terutama bagian paha.
Ada alasan khusus kenapa Rasulullah menyukai bagian paha kambing. Di sisi lain, kegemarannya mengonsumsi daging kambing pun diakui para sahabat. Ini bisa dilihat dari hadis berikut:
كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فِى دَعْوَةٍ ، فَرُفِعَ إِلَيْهِ الذِّرَاعُ ، وَكَانَتْ تُعْجِبُهُ ، فَنَهَسَ مِنْهَا نَهْسَةً
Artinya, "Kami pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu undangan. Kemudian dibawakanlah paha kambing dan beliau menyukainya. Kemudian beliau menggigitnya satu gigitan." (HR. Bukhari 3340 dan Muslim 501).
Ikut Kembangkan Vaksin AstraZeneca, Indra Rudiansyah Bekerja 10 Jam Setiap Hari
Terkait dengan daging kambing ini, Rasulullah pernah menjelaskan kalau daging paha kambing menjadi kesukaannya karena mudah dicerna dan mudah dimasak.
Selain itu, tentunya lezat dan lebih steril dari risiko penyakit. Makanya kambing jadi salah satu hewan kurban favorit umat Muslim.
Kolesterol Naik saat Kebanyakan Konsumsi Daging Idul Adha? Turunkan dengan 6 Jenis Makanan Ini
An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menukil keterangan al-Qadhi Iyadh,
قال القاضي عياض رحمه الله تعالى محبته صلى الله عليه وسلم للذراع لنضجها وسرعة استمرائها مع زيادة لذتها وحلاوة مذاقها وبعدها عن مواضع الأذى
Profil Indra Rudiansyah, Mahasiswa Asal Indonesia yang Terlibat Pengembangan Vaksin AstraZeneca
Al-Qadhi Iyadh – rahimahullah – mengatakan, "Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai paha kambing, karena mudah dimasak dan mudah dicerna, disamping lebih lezat dan lebih steril dari risiko penyakit." (Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi, 3/65).
Dari penjelasan itu juga kita bisa memahami mengapa begitu banyak jenis olahan kambing, misalnya saja yang cukup populer di Indonesia seperti sate, tongseng, ataupun gulai. Semuanya begitu lezat, tapi ingat konsumsi daging kambing tentunya tak boleh berlebihan karena Allah tak menyukai segala sesuatu yang berlebihan.
Editor: Dani M Dahwilani