Gelar Drama Musikal di Hari Down Syndrome Sedunia, Ini Harapan Yayasan Belantara Budaya Indonesia
JAKARTA, iNews.id - Demi memperingati Hari Down Syndrome Sedunia, Yayasan Belantara Budaya Indonesia (BBI) menggelar drama musikal bertajuk Mimpi Kirana. Acara ini digelar di Balai Sarbini Jakarta, Sabtu (1/4/2023).
Founder Belantara Budaya Indonesia Diah Kusumawardhani Wijayanti mengatakan, drama musikal Mimpi Kirana ini bertujuan untuk mengajak anak-anak Indonesia mencintai budaya dan tradisi negeri. Di sisi lain, dia juga ingin mengajarkan anak untuk lebih cerdas dalam bermedia sosial.
“Mengajak anak Indonesia untuk cerdas di sosial media, bagaimana memviralkan konten tentang Indonesia agar mendunia. Di Mimpi Kirana ini kita juga mau mengajak semua anak Indonesia berkarya dan berdaya dan kita harus bisa menembus batas karena semua diawali oleh mimpi,” kata Diah kepada media saat ditemui di Balai Sarbini, Jakarta, Sabtu (1/4/2023).
Diah menjelaskan, drama musikal ini menceritakan tentang seorang anak yang bermimpi diberikan wangsit untuk mencintai budaya dan tradisi Indonesia. Kirana mengajak teman-teman di sekolahnya untuk membuat konten di media sosial tentang kekayaan nusantara.
Deretan Artis Cantik Lawas Hijrah Jadi Penceramah, Nomor 3 Mantan Penyanyi dan Bintang Film Era 80-an
“Ada konflik, seseorang followersnya banyak tapi nggak mau memasarkan keindahan Indonesia. Akhirnya, mereka bergabung dan kontennya viral dan mendunia. Di sinilah mereka mengajak anak-anak Indonesia mencintai budaya dan juga bermedia sosial dengan bijak,” ujar dia.
Dalam drama musikal ini, melibatkan 241 anak dan 48 anak difabel. Dia mengatakan, pihaknya ingin memberi panggung kepada anak-anak difabel untuk bersenang-senang sekaligus berdaya bersama.
Deretan Artis Terkenal Jago Main Bola, Ada yang Punya Klub Sendiri hingga Keluarkan Dana Rp20 Miliar Per Tahun
“Kita rekrut anak-anak terbaik dari total 6.000 murid kita, terus kita ambil seratusan lebih dan mengaudisi empat sekolah untuk gabung,” katanya.
Saat proses pengerjaannya, Diah mengatakan, pihaknya menghabiskan waktu selama 2,5 bulan. “Tantangannya banyak banget, harus punya kesabaran yang tinggi, gimana mengajarkan anak-anak ini merasa dan nggak dibedakan karena mereka digabungkan. Pas kita tahu ternyata orang tuanya bangga anaknya ditampilkan sama teman-teman lain jadi nggak ada batas,” ujar dia.
Deretan Artis Lahir di Bulan Ramadhan, Nomor 5 Punya Nasib Mujur karena Wajahnya Mirip Bintang Terkenal
Adanya event ini, Diah berharap anak-anak Indonesia bisa mencintai budaya dan tradisi Indonesia. Dia juga berharap agar anak muda Indonesia bisa bermedia sosial dengan bijak.
“Semoga media sosial ini bisa memviralkan tempat-teman keren dan budaya di Indonesia. Itu sih yang mau kita tonjolkan. Jadi ada dua misi, misi mencintai budaya, tradisional Indonesia dan misi bijak bersosial media. Kita ingin anak-anak difabel bergabung dengan Yayasan Belantara Budaya Indonesia untuk sama-sama berkarya dan berdaya,” katanya.
5 Artis Terkenal Dermawan, Ada yang Punya Yayasan Amal hingga Dirikan Masjid di Luar Negeri
Di acara ini, hadir pula Wakil Walikota Bogor, Dedie A Rachim. Dia turut terlibat dalam drama musikal ini, di mana dirinya berperan sebagai Pak Guru.
Untuk pertama kalinya bermain dalam drama musikal Dedie mengaku tidak merasa kesulitan. “Lebih banyak improvisasi, saya sudah dikasih naskah dan sudah di briefing tetapi karena waktu dan lokasi latihan jauh jadi lebih banyak improv tentang budaya dan sosmed,” ujar dia.
Selain itu, menurut Dedie, dengan adanya drama musikal ini kita bisa mengedukasi anak-anak untuk bijak dalam memakai gadget.
“Kita bijak memakai gadget dan anak-anak jadi salah satu objek yang harus dipengaruhi agar tidak terlalu banyak memakai gadget untuk hal-hal negatif. Dengan model tampilan yang akan disajikan adalah gimana kita lebih bijak pakai gadget dan menjadikan sosial media memiliki nilai lebih positif sendiri,” kata Dedie.
Acara ini juga didedikasikan untuk Yayasan Potads (persatuan orang tua dengan down syndrome). Kegiatan ini juga sebagai charity dan disumbangkan untuk yayasan tersebut.
Editor: Siska Permata Sari