Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Nestapa Calvin Dores, Kena Serangan Jantung usai Ingin Jual Bola Mata demi Lanjutkan Hidup
Advertisement . Scroll to see content

Waspada, Orang Tak Bahagia Berpotensi Stroke

Kamis, 02 November 2017 - 15:50:00 WIB
Waspada, Orang Tak Bahagia Berpotensi Stroke
Banyak penyakit tidak menular yang mematikan bisa incar mereka yang hidupnya tidak bahagia. (Foto: Human Resources)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Kebahagiaan adalah salah satu indikasi yang memengaruhi kualitas hidup. Jika hal itu tidak tercapai, Anda berpotensi kena penyakit tidak menular yang mematikan, seperti stroke, diabetes, hipertensi, dan jantung.

Perasaan bahagia memang dapat mengantarkan seseorang untuk hidup lebih panjang umur. Hal itu dibuktikan dari faktor kebahagiaan di setiap negara dan angka rata-rata harapan hidup.

Berdasarkan World Happiness Report tahun 2017, kebahagiaan masyarakat Indonesia sendiri menempati urutan ke 81 di bawah Jamaika, China, dan Pakistan. Padahal, kebahagiaan sangat terkait dengan kesehatan, baik itu kesehatan mental maupun fisik.

Buktinya, negara yang bahagia, tingkat kualitas hidup dan angka harapan hidup pun tinggi. Contohnya adalah Taiwan yang menempati urutan ketiga di Asia, sebagai negara yang paling bahagia. Hasilnya, rata-rata angka hidup masyarakat Taiwan mencapai usia 80,2 tahun.

Kebahagiaan atau kondisi mental seseorang dapat memengaruhi kesehatan fisik. Orang yang tidak bahagia cenderung memiliki tingkat risiko terkena penyakit tidak menular yang berbahaya, seperti stroke, diabetes, hipertensi, dan jantung. Penyakit-penyakit itulah yang paling mematikan.

Penyakit diabetes, misalnya, angka penderitanya di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Berdasarkan data tahun 2015, sebanyak 10 juta orang terkena diabetes. Alasannya, banyak masyarakat yang abai terhadap gaya hidup sehat dan tingkat stres yang tinggi, terutama bagi masyarakat perkotaan.

"Kurangnya aktivitas fisik, kurang makan sayur, dan manajemen stres yang buruk dapat menyebabkan diabetes," kata Healthcare Expert dr. Juwalita Surapsari ditemui iNews.id dalam acara Happy Being Healthy bersama The Taiwan External Trade and Development Council (TAITRA) di Taiwan Gallery Excellence, Neo Soho Mall, Jakarta Barat, Kamis (2/11/2017).

Tak hanya itu, menurut dr. Juwalita, kebiasaan yang buruk di tempat kerja juga memengaruhi tingkat risiko terkena diabetes. "Misalnya, duduk berjam-jam di kantor dan ngemil. Jadi, setiap 30 menit duduk, harus jeda untuk berdiri sekitar tiga sampai lima menit lah. Kemudian, stop ngemil," lanjut dia.

Sementara itu, demi mengubah pola hidup yang biasa ke pola hidup sehat, bisa dilakukan dengan cara berolahraga rutin, pola makan yang sehat, serta mampu memanajemen stres.

"Kurangi makanan olahan, termasuk minuman kemasan. Kemudian coba beraktivitas fisik, misalnya mulai berjalan kaki selama dua bulan atau kalau konsisten 66 hari. Untuk makanan, komposisinya harus tepat, karbo kompleks seperti nasi merah atau hitam, sayuran, dan protein agar menjaga kadar gula darah normal," pungkasnya.

Editor: Super Admin

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut