Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kemenkes Terima Laporan WNA Australia Kena Campak usai Perjalanan dari Indonesia
Advertisement . Scroll to see content

Waspada Campak, Kemenkes Catat 63.769 Suspek di 2025 dan 21 Kejadian Luar Biasa Awal 2026

Jumat, 27 Februari 2026 - 04:49:00 WIB
Waspada Campak, Kemenkes Catat 63.769 Suspek di 2025 dan 21 Kejadian Luar Biasa Awal 2026
Kemenkes meningkatkan kewaspadaan karena masih ditemukan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di sejumlah wilayah Indonesia. (Foto: AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memaparkan perkembangan terkini situasi campak nasional dan global dalam konferensi pers daring, Kamis (26/2/2026). Pemerintah meningkatkan kewaspadaan karena masih ditemukan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di sejumlah wilayah Indonesia.

Berdasarkan data nasional, sepanjang 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak. Dari jumlah tersebut, 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian dengan case fatality rate (CFR) 0,1 persen.

Sementara pada 2026 hingga Minggu ke-7, tercatat 8.224 kasus suspek campak, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian dengan CFR 0,05 persen. Pada periode ini juga terjadi 21 KLB suspek campak dan 13 KLB campak terkonfirmasi laboratorium yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.

Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, menegaskan campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular sehingga membutuhkan respons cepat. Dia menyebut setiap kenaikan kasus harus segera ditindaklanjuti.

“Campak memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Karena itu, setiap peningkatan kasus harus direspons dengan cepat melalui surveilans yang kuat dan pelaporan yang tepat waktu,” ujar dr Andi.

Dia menjelaskan, penemuan kasus suspek campak pada 2025 meningkat signifikan hingga 147 persen dibandingkan 2024. Karena itu, penguatan sistem kewaspadaan dini menjadi prioritas utama pemerintah.

“Kami terus memperkuat surveilans campak secara nasional, termasuk penyelidikan epidemiologi maksimal 24 jam setelah penemuan kasus dan pelaporan real time melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR),” katanya.

Tak hanya di dalam negeri, peningkatan kasus campak juga dilaporkan di berbagai kawasan dunia, termasuk Asia Tenggara dan Pasifik Barat. Kondisi ini meningkatkan risiko penularan lintas negara.

Indonesia juga menerima notifikasi International Health Regulations (IHR) terkait kasus campak pada warga negara asing asal Australia yang sempat melakukan perjalanan dan tinggal sementara di Indonesia. Seluruh kasus tersebut telah dinyatakan sembuh dan koordinasi lintas negara terus dilakukan.

Konsultan Penyakit Infeksi dan Tropik Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, dr Mulya Rahma Karyanti, menyampaikan dinamika kasus campak sangat berkaitan dengan ketimpangan cakupan imunisasi di daerah.

“Secara nasional capaian imunisasi campak-rubella sudah melampaui target, namun kasus masih terjadi di provinsi, kabupaten, bahkan desa tertentu yang memiliki cakupan imunisasi rendah. Di wilayah-wilayah inilah risiko KLB campak menjadi lebih tinggi,” ujar dr Mulya.

Kemenkes menegaskan akan terus meningkatkan kewaspadaan nasional melalui penguatan surveilans, respons cepat terhadap KLB, serta kolaborasi lintas sektor bersama pemerintah daerah. Langkah ini diharapkan mampu mencegah meluasnya penularan campak di berbagai wilayah Indonesia.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut