Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Tips Tidur Cepat ala Menkes, Pemudik Wajib Tahu!
Advertisement . Scroll to see content

Sering Tiba-tiba Bangun Jam 3 Pagi? Bisa Jadi Sinyal Tubuh Bermasalah

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:36:00 WIB
Sering Tiba-tiba Bangun Jam 3 Pagi? Bisa Jadi Sinyal Tubuh Bermasalah
Kerap bangun tidur pukul 03.00 dini hari disebut-sebut bisa menjadi sinyal tubuh sedang tidak baik-baik saja, baik secara fisik maupun mental. (Foto: Ilustrasi/AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Pernah tiba-tiba terbangun pada pukul 3 atau 4 pagi lalu sulit tidur lagi? Kondisi ini ternyata cukup umum terjadi dan dikenal dengan istilah Early Awakening Insomnia.

Fenomena tersebut ramai dibahas akun X @0xhanyfa melalui sebuah utas yang viral di media sosial. Dalam penjelasannya, kondisi ini berbeda dengan insomnia biasa yang membuat seseorang sulit memulai tidur.

“Beda sama orang yang susah mulai tidur (Onset Insomnia), tipe yang ini biasanya gampang tidur, tapi nggak bisa tidur lama atau lanjut terus,” tulis akun tersebut.

Orang yang mengalami kondisi ini umumnya bisa tertidur dengan mudah pada malam hari. Namun, mereka mendadak terbangun terlalu pagi meski tubuh masih terasa lelah.

Parahnya, mata dan pikiran justru sulit kembali rileks untuk melanjutkan tidur. Kondisi ini disebut-sebut bisa menjadi sinyal tubuh sedang tidak baik-baik saja, baik secara fisik maupun mental.

Salah satu penyebab paling umum adalah meningkatnya hormon kortisol akibat stres dan kecemasan. Kortisol dikenal sebagai hormon stres yang dapat memengaruhi ritme tidur seseorang.

“Hormon stres alias kortisol bisa naik terlalu cepat jam 3–4 pagi, bikin otak auto kebangun sebelum waktunya,” lanjut unggahan tersebut.

Tak hanya stres, depresi juga kerap dikaitkan dengan kebiasaan bangun terlalu pagi. Dalam dunia psikiatri, kondisi ini menjadi salah satu gejala yang cukup sering ditemukan pada penderita depresi.

“Di dunia psikiatri, kebangun terlalu pagi termasuk salah satu tanda yang cukup umum dari depresi,” tulis akun itu lagi.

Biasanya, selain sulit tidur kembali, seseorang juga mengalami rasa gelisah, dada terasa berat, hingga muncul perasaan kosong ketika bangun dini hari.

Faktor usia juga berpengaruh terhadap pola tidur seseorang. Semakin bertambah umur, produksi melatonin atau hormon tidur akan menurun sehingga tubuh cenderung tidur dan bangun lebih awal.

Selain itu, sleep apnea atau gangguan napas saat tidur juga dapat memicu seseorang terbangun mendadak pada dini hari. Kondisi ini sering kali tidak disadari, tetapi bisa membuat kualitas tidur menurun drastis.

Untuk mengatasinya, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan. Salah satunya menerapkan metode 20-minute rule.

Jika seseorang tidak bisa kembali tidur setelah sekitar 20 menit, disarankan untuk keluar dari tempat tidur sejenak dan tidak memaksakan diri tetap berbaring.

Cara ini dilakukan agar otak tidak mengasosiasikan kasur sebagai tempat untuk overthinking atau merasa stres.

Selain itu, seseorang juga dianjurkan tidak langsung melihat jam atau membuka ponsel saat terbangun dini hari. Kebiasaan tersebut justru dapat memicu kecemasan dan membuat tubuh semakin sulit kembali tidur.

“Begitu lihat ternyata udah jam 3.15 pagi, otak langsung panik,” tulis akun tersebut.

Menjaga jadwal tidur tetap teratur dan menghindari konsumsi kafein pada sore hingga malam hari juga penting dilakukan agar ritme biologis tubuh tetap stabil.

Kondisi kurang tidur dalam jangka panjang tidak boleh dianggap sepele. Sebab, hal itu dapat berdampak pada konsentrasi, emosi, hingga kesehatan mental seseorang.

Sebab itu, apabila kebiasaan bangun terlalu pagi dan sulit tidur kembali terjadi lebih dari satu bulan, disarankan segera memeriksakan diri ke dokter agar penyebab pastinya dapat diketahui.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut