Puasa Ramadhan Bisa Cegah Kanker? Ini Faktanya!
JAKARTA, iNews.id - Puasa Ramadhan sudah terbukti membawa manfaat baik bagi kesehatan. Bahkan, ada anggapan kalau puasa Ramadhan bisa mencegah kanker, benarkah?
Penelitian terbaru mengungkapkan, puasa memiliki potensi besar dalam membantu tubuh mendeteksi dan menghancurkan sel kanker. Fakta ini menambah deretan panjang manfaat berpuasa Ramadhan.
Mengutip penelitian dari Sloan Kettering Institute MSK, puasa dapat melatih ulang cara kerja tubuh. Saat berpuasa, tubuh tidak hanya membakar lemak dan mempercepat metabolisme, namun juga memperkuat sel pembunuh alami dalam tubuh yang disebut dengan Natural Killer.
Sesuai namanya, sel ini adalah bagian dari sel darah putih yang bertugas mencari dan menghancurkan sel-sel jahat atau rusak, seperti virus atau cikal bakal kanker. Menariknya, saat berpuasa, sel pembunuh terus dikirim dan disebarkan ke seluruh tubuh dengan kondisi yang lebih kuat untuk menjaga kesehatan.
Jangan Kalap! Ini 5 Tips Atasi Emotional Eating saat Buka Puasa Ramadan
Selain itu, melansir dari National Center for Biotechnology Information, berpuasa bisa membuat tubuh seolah-olah mengaktifkan mode 'pembersihan mandiri' yang disebut dengan proses autofagi.
Punya Gerd, Ini 5 Hal Penting Harus Diperhatikan saat Buka Puasa agar Lambung Tetap Nyaman
Bayangkan sel tubuh seperti sebuah rumah. Saat berpuasa, tubuh tidak sibuk mengolah makanan, sehingga ia punya waktu untuk memeriksa setiap sudut ruangan.
Tubuh akan memakan bagian sel yang rusak, protein yang sudah tidak berguna, hingga bakteri jahat yang akan didaur ulang menjadi energi baru dan lebih bersih untuk tubuh. Hal tersebut akan membuat sel-sel dalam tubuh menjadi lebih segar, lebih sehat serta membantu terhindar dari berbagai penyakit sekaligus membuat tubuh lebih awet muda.
5 Jenis Kurma untuk Buka Puasa Ramadan, Ini yang Disukai Nabi
Sementara itu, Syaikh Shakbout Medical City menuliskan, puasa juga bisa memberikan manfaat dan dukungan dalam pengobatan kanker. Manfaat terlihat saat penelitian terhadap pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi dan kondisi berpuasa.
Kadar gula dan hormon pertumbuhan yang memicu sel kanker menurun, sementara cadangan energi alternatif (keton) meningkat.
Hal itu membuat tingkat keracunan atau efek buruk dari obat kimia ke tubuh menjadi lebih rendah dan kondisi pasien lebih stabil. Dengan kata lain, proses kemoterapi bisa dilakukan tepat waktu tanpa harus ditunda-tunda akibat kondisi tubuh yang menurun. Terlebih, puasa juga bisa meningkatkan kualitas hidup pasien kanker secara biologis.
Di sisi lain, puasa juga membuat kadar asam lemak bebas meningkat lebih banyak daripada sumber glukosa yang menjadi tenaga bagi tubuh. Meningkatnya asam lemak ini membuat sel pembunuh dalam tubuh menjadi lebih kuat untuk memakan sel-sel rusak seperti sel kanker dan virus.
Editor: Muhammad Sukardi