Produk Herbal Tak Lagi Identik Obat Tradisional, Kini Jadi Gaya Hidup Modern
JAKARTA, iNews.id – Industri herbal lokal Indonesia mulai menunjukkan perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Jika dulu identik dengan jamu tradisional dan pengobatan rumahan, kini produk herbal berkembang menjadi bagian dari gaya hidup modern.
Perubahan tren tersebut dinilai menjadi salah satu peluang besar bagi pelaku UMKM lokal untuk memperluas pasar, termasuk menembus pasar internasional yang selama ini masih sulit dijangkau mayoritas usaha kecil di Indonesia.
Berdasarkan data Sistem Informasi Data Tunggal UMKM (SIDT-UMKM), jumlah UMKM di Indonesia mencapai 30,19 juta pada Oktober 2025. Namun hingga Juni 2025, baru 609 UMKM atau sekitar 0,002 persen yang berhasil masuk pasar ekspor.

Angka tersebut menunjukkan masih besarnya tantangan yang dihadapi pelaku usaha lokal untuk bisa berkembang secara global. Persoalannya bukan hanya soal kualitas produk, tetapi juga branding, legalitas, distribusi, hingga kemampuan membangun kepercayaan pasar.
CEO Sanga Sanga, Riva Effrianti, menilai banyak produk herbal Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar internasional. Namun, menurutnya, pelaku usaha perlu beradaptasi dengan perubahan tren konsumen dan standar pasar global.
"Produk lokal Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar. Namun untuk dapat bersaing hingga pasar internasional, UMKM perlu membangun kualitas, legalitas, inovasi, dan konsistensi secara serius," ujar Riva dalam keterangan resminya, Senin (18/5/2026).
Menurutnya, perubahan perilaku konsumen membuat produk herbal kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai obat tradisional. Masyarakat modern mulai melihat produk berbahan alami sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan kebutuhan wellness sehari-hari.
Karena itu, banyak brand herbal mulai melakukan transformasi bisnis dengan memperluas pengembangan produk ke sektor beauty, relaxation, hingga lifestyle agar lebih relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.
Transformasi tersebut juga terlihat dari cara pemasaran produk herbal yang kini semakin modern. Pemanfaatan marketplace, media sosial, digital campaign, hingga kerja sama dengan retail modern membuat produk herbal lebih mudah menjangkau konsumen muda.
Tak hanya dari sisi pemasaran, tampilan produk juga ikut berubah. Kemasan yang lebih premium dan modern dinilai membantu mengubah stigma lama bahwa produk herbal hanya identik dengan pasar tradisional.
Selain inovasi produk, legalitas juga menjadi aspek penting yang mulai mendapat perhatian pelaku usaha. Pengurusan BPOM, sertifikasi halal, hingga perlindungan hak kekayaan intelektual dinilai menjadi syarat penting untuk memperluas pasar.
Bahkan untuk menembus pasar Eropa, sejumlah brand lokal mulai mengurus legalitas internasional seperti Cosmetic Product Notification Portal (CPNP) yang menjadi salah satu syarat produk kosmetik masuk ke pasar Uni Eropa.
Riva menilai keberhasilan sebuah brand lokal berkembang hingga pasar internasional tidak dapat dicapai secara instan. Dibutuhkan proses panjang mulai dari penguatan identitas brand, edukasi pasar, pengembangan produk, hingga konsistensi menjaga kualitas.
Di tengah meningkatnya tren gaya hidup sehat global, industri herbal lokal dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang lebih jauh. Namun para pelaku usaha juga dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan pasar dan membangun bisnis secara profesional agar mampu bersaing secara berkelanjutan.
"Perjalanan membangun brand lokal membutuhkan proses panjang, termasuk menjaga kualitas dan kepercayaan masyarakat," katanya.
Editor: Muhammad Sukardi