Peneliti Temukan Antibiotik dari Senyawa Tanah, Ini Penjelasannya
JAKARTA, iNews.id- Tim Peneliti di Universitas Rockefeller mensinyalir senyawa alami tanah mampu menghasilkan antibiotik baru. Senyawa tersebut mampu mengobati infeksi yang sulit untuk disembuhkan.
Berdasarkan pengujian dalam penelitian senyawa tersebut dinamakan sebagai malacidin. Malacidin mampu memusnahkan sejumlah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang sulit untuk disembuhkan dan telah resisten terhadap antibiotik termasuk MRSA superbug.
Padahal penyakit yang resisten terhadap obat-obatan merupakan ancaman terbesar bagi kesehatan. Mereka membunuh sekitar 700.000 orang per tahun sehingga pengobatan baru sangat diperlukan di dunia.
Nah, dengan adanya malacidin ini tentu menawarkan harapan baru. Penelitian tersebut juga telah dipublikasikan di Nature Microbiologi.
Tim peneliti dari New York Rockefeller University Sean Brady meneliti, tanah penuh dengan beragam jutaan mikroorganisme yang menghasilkan banyak senyawa terapeutik, termasuk antibiotik baru. Penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik sekuensing gen untuk menganalisis lebih dari 1.000 sampel tanah yang diambil dari seluruh AS.
Saat menemukan malacidin di banyak sampel, mereka mensinyalir bahwa ini adalah temuan yang penting. Bahkan para peneliti sekarang berupaya meningkatkan efektivitas obat dengan harapan bisa dikembangkan bagi pengobatan manusia.
"Tidak mungkin mengatakan kapan, atau bahkan jika penemuan antibiotik tahap awal seperti malacidin ini akan dilanjutkan ke klinik. Ini adalah jalan yang panjang dan sulit dari penemuan awal antibiotik ke entitas yang secara klinis digunakan,” katanya seperti dilanasir dari BBC, Jumat (16/2/2018).
Sementara itu, Colin Garner dari Antibiotic Research UK mengatakan bahwa menemukan antibiotik baru untuk mengobati infeksi gram positif seperti MRSA adalah kabar baik. Meski begitu penemuan tersebut tidak menyentuh kebutuhan yang paling mendesak.
“Kekhawatiran kami adalah bakteri gram negatif yang sangat sulit diobati dan resistensinya meningkat. Bakteri gram negatif menyebabkan pneumonia, darah dan infeksi saluran kemih karena infeksi kulit. Kita membutuhkan antibiotik baru untuk mengobati kelas ini,” tuturnya.
Editor: Nanang Wijayanto