Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Waspada Gagal Ginjal Tak Bergejala, Lakukan Deteksi Lewat Tes Urine
Advertisement . Scroll to see content

Pendonor Ginjal Minim, Indonesia Butuh Lembaga Donor Organ Nasional

Sabtu, 14 Februari 2026 - 19:58:00 WIB
Pendonor Ginjal Minim, Indonesia Butuh Lembaga Donor Organ Nasional
Indonesia masih menghadapi persoalan besar yakni minimnya jumlah donor organ. (Foto: AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Transplantasi ginjal dinilai sebagai terapi terbaik bagi pasien gagal ginjal stadium akhir. Dibandingkan dialisis atau cuci darah yang harus dijalani rutin dan memakan waktu, transplantasi ginjal memberi peluang hidup lebih lama sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien.

Namun, di balik kemajuan teknik medis, Indonesia masih menghadapi persoalan besar yakni minimnya jumlah donor organ. Selain itu, belum adanya sistem nasional terintegrasi membuat proses pencarian donor belum berjalan optimal dan transparan.

Dokter Spesialis Urologi, Profesor dr Nur Rasyid, menilai tantangan utama transplantasi ginjal saat ini bukan lagi pada kemampuan operasi. Dia menyebut persoalan terbesar justru terletak pada ketersediaan donor yang adil, transparan, dan berkelanjutan.

“Kalau transplantasi, tantangan terbesarnya itu donornya yang kurang. Harusnya ada badan yang dibikin oleh negara, namanya Organ Donation Organization,” ujarnya seusai acara Clinical Milestone: Paparan Perjalanan 500 Kidney Transplant di Siloam ASRI pada Sabtu (14/2/2026).

Menurut dia, Indonesia sudah saatnya memiliki lembaga khusus yang mengatur donor organ secara nasional dan terpisah dari rumah sakit. Lembaga tersebut, kata dia, seharusnya bekerja seperti Palang Merah Indonesia (PMI) dalam mengelola donor darah.

Dia menjelaskan, masyarakat yang ingin mendonorkan organ, baik saat masih hidup maupun setelah meninggal dunia, dapat mendaftarkan diri secara sukarela. Data donor tercatat secara sistematis dan dapat diakses secara transparan saat dibutuhkan.

“Semua orang kalau mau donor, daftar ke situ. Jadi ketahuan, ‘Oh, saya NIK sekian terdaftar sebagai donor’. Begitu suatu saat terjadi kecelakaan atau mati batang otak, langsung bisa dicari siapa yang cocok,” ujarnya.

Prof Nur Rasyid juga menekankan pentingnya independensi lembaga donor organ tersebut. Dia menilai, jika pendaftaran donor dilakukan langsung oleh rumah sakit, dikhawatirkan muncul persepsi konflik kepentingan di tengah masyarakat.

“Kalau pendaftarannya di rumah sakit, dunia ribut. Takut ada konflik kepentingan. Jadi ini harus independen, bukan pegawai negeri, kayak PMI,” katanya.

Dia mencontohkan sejumlah negara yang telah lebih dulu mengembangkan sistem donor organ nasional, salah satunya Korea Selatan. Menurut dia, negara tersebut berhasil meningkatkan jumlah donor hidup secara signifikan dalam kurun waktu dua dekade.

“Korea itu tahun 2000 hanya satu donor hidup per sejuta penduduk. Dua puluh tahun kemudian jadi sepuluh. Artinya masyarakatnya terdidik bahwa donor hidup itu aman,” ujarnya.

Selain itu, dia menyebut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membolehkan adanya kompensasi wajar bagi donor hidup. Kompensasi tersebut bukan dalam bentuk jual beli organ, melainkan pengganti biaya dan waktu yang hilang selama proses medis berlangsung.

Beberapa negara lain seperti Singapura juga menerapkan sistem opting-out. Dalam sistem tersebut, seluruh warga negara otomatis terdaftar sebagai donor organ, kecuali menyatakan keberatan secara resmi.

Prof Nur Rasyid menambahkan, hasil transplantasi ginjal di Indonesia saat ini sudah berada pada level yang sebanding, bahkan sedikit lebih baik dibandingkan standar Eropa. Namun tanpa sistem donor yang kuat dan terintegrasi, capaian medis tersebut sulit menjangkau lebih banyak pasien yang membutuhkan.

Dia menegaskan, peran pemerintah sangat krusial dalam membangun sistem donor organ nasional. Dengan regulasi yang jelas, edukasi publik yang masif, serta lembaga independen yang terpercaya, jumlah donor diyakini dapat meningkat signifikan.

“Kalau nanti negara ini bikin Organ Donation Organization, semua center transplantasi di Indonesia akan naik,” katanya.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut