Orangtua Wajib Tahu, Ini Gejala Umum Penyakit Jantung Bawaan Anak yang Patut Diwaspadai
JAKARTA, iNews.id - Penyakit jantung bawaan (PJB) atau congenital heart disease merupakan kelain pada struktur dan fungsi jantung yang telah ada sejak lahir. Menurut dokter spesialis dan Konsultan Jantung Anak, dr Anisa Rahmadhany, Sp.A (K) selain PJB penyakit jantung anak bisa disebabkan oleh infeksi atau penyakit lain.
“Mendapatkan obat-obatan kemotrapi bisa mempengaruhi fungsi jantung. Penyakit seperti lupus juga mempengaruhi fungsi jantung, bahkan status gizi yang buruk juga berpengaruh,” kata dr Anisa, saat ditemui di iNews Tower, Selasa (29/8/2023).
Adapun beberapa gejala umum terjadinya PJB dapat dikelompokkan dalam tiga kategori. Gejala pertama anak mudah lelah saat menyusu.
“Mudah lelah, kalau pada bayi mudah lelah dalam aktivitas menyusu jadi terputus-putus. Akibatnya nutrisi tidak adekuat, status gizi akan terpengaruh jadi gagal tumbuh, bahkan gizi buruk,” katanya.
Perlu Tahu! Ini Cara Mendeteksi Penyakit Jantung Pada Anak, Saksikan di Morning Update
Gejala kedua adalah kebiruan atau sianosis yang paling mudah dilihat di bibir dan lidah. Namun, jika sudah berkelanjutan bisa dilihat pada kuku tangan atau kaki dan bentukkan menyerupai pemukul drum atau kerap disebut ‘clubbing finger’.
Sedangkan yang ketiga adalah tanpa gejala. Namun, saat diperiksa dokter mendengar bising jantung yang terdengar dengan stetoskop. Jika didapati anak mengidap PJB maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh orangtua adalah mulai perhatikan nutrisi, imunisasi supaya tidak mudah infeksi, dan obat-obatan yang diberi dokter tetap dikonsumsi.
“Intinya sih seperti mengasuh anak yang sehat. Nutrisinya harus dipenuhi, kemudian imunisasi harus dilengkapi. Selain itu juga stimulasi tumbuh kembang supaya dia siap untuk tindakan dan perkembangannya di masa depan,” ujar dr Anisa.
Menurut dr Anisa yang penting dan tidak boleh adalah menunda untuk tindakan. Karena hal tersebut dapat memperburuk kondisi penyakit dan meyebabkan komplikasi.
“Terkadang orangtua takut harus operasi. Padahal kalau dilakukan pada saat yang optimal itu akan baik. Daripada ditunda-tunda, nanti akibatnya sudah terlambat dan ada komplikasi tidak bisa dilakukan tindakan operasi,” katanya.
Editor: Elvira Anna