Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Indonesia Cetak Sejarah! Jadi Negara Pertama di Asia Tenggara Bangun Ekosistem Plasma Nasional
Advertisement . Scroll to see content

Mengenal Obat Derivat Plasma, Terapi Penyelamat Nyawa yang Kini Akan Diproduksi di Indonesia

Senin, 13 Juli 2026 - 14:57:00 WIB
Mengenal Obat Derivat Plasma, Terapi Penyelamat Nyawa yang Kini Akan Diproduksi di Indonesia
Ilustrasi obat derivat plasma. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.idObat derivat plasma atau Plasma-Derived Medicinal Products (PODP) mungkin masih terdengar asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Padahal, terapi ini memiliki peran yang sangat penting dalam dunia medis karena digunakan untuk menangani berbagai penyakit serius, termasuk sejumlah penyakit langka yang dapat mengancam nyawa apabila tidak mendapatkan pengobatan yang tepat.

Seiring rencana pemerintah membangun ekosistem plasma nasional, obat derivat plasma diproyeksikan dapat diproduksi di Indonesia pada masa mendatang. Langkah ini diharapkan mampu memperluas akses pasien terhadap terapi yang selama ini sebagian besar masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Apa Itu Obat Derivat Plasma?

Obat derivat plasma merupakan obat yang dibuat dari plasma darah manusia, yakni bagian cair darah yang berwarna kekuningan. Plasma menyusun sekitar 55 persen dari volume darah dan mengandung berbagai protein penting yang dibutuhkan tubuh, seperti albumin, imunoglobulin, serta faktor pembekuan darah.

Melalui proses teknologi yang disebut fraksionasi plasma, protein-protein tersebut dipisahkan, dimurnikan, lalu diolah menjadi berbagai jenis obat yang digunakan untuk mengatasi beragam kondisi medis.

Karena berasal dari protein alami dalam tubuh manusia, obat derivat plasma menjadi terapi yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh obat sintetis untuk beberapa penyakit tertentu.

Penyakit Apa Saja yang Membutuhkan Terapi Ini?

Produk obat derivat plasma digunakan untuk menangani berbagai penyakit dengan kebutuhan medis yang tinggi.

Salah satunya adalah hemofilia, kelainan pembekuan darah yang menyebabkan penderita mengalami perdarahan lebih lama karena kekurangan faktor pembekuan.

Selain itu, terapi ini juga dibutuhkan pasien dengan primary immunodeficiency (gangguan kekebalan tubuh primer), yaitu kondisi ketika sistem imun tidak mampu melawan infeksi secara optimal sehingga penderita lebih mudah terserang penyakit.

Obat derivat plasma juga digunakan pada sejumlah penyakit saraf autoimun, seperti Guillain-Barré Syndrome (GBS) dan Chronic Inflammatory Demyelinating Polyneuropathy (CIDP). Pada kondisi tersebut, sistem kekebalan tubuh justru menyerang saraf sehingga dapat menyebabkan kelemahan otot hingga kelumpuhan apabila tidak segera ditangani.

Di samping itu, albumin yang berasal dari plasma juga banyak dimanfaatkan dalam penanganan pasien dengan penyakit hati, luka bakar berat, syok, maupun kondisi kritis lain yang membutuhkan penggantian protein dalam darah.

Mengapa Disebut Terapi Penyelamat Nyawa?

Bagi sebagian pasien, obat derivat plasma bukan sekadar membantu mempercepat pemulihan, melainkan menjadi terapi yang menentukan kelangsungan hidup.

Pasien hemofilia, misalnya, membutuhkan faktor pembekuan darah agar perdarahan dapat dihentikan dan komplikasi serius dapat dicegah.

Sementara itu, pasien dengan gangguan imun primer memerlukan imunoglobulin secara berkala untuk membantu tubuh melawan infeksi yang berulang. Tanpa terapi tersebut, risiko infeksi berat hingga kematian dapat meningkat.

Karena manfaatnya yang sangat vital, permintaan terhadap produk obat derivat plasma terus meningkat di berbagai negara.

Meski memiliki manfaat besar, akses terhadap obat derivat plasma di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan.

Selain sebagian besar produk masih berasal dari luar negeri, ketersediaannya juga dipengaruhi kapasitas produksi global. Di sisi lain, tingkat diagnosis penyakit yang membutuhkan terapi berbasis plasma masih relatif rendah sehingga tidak semua pasien memperoleh pengobatan secara optimal.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mulai membangun ekosistem plasma nasional agar rantai pasok terapi ini menjadi lebih kuat dan berkelanjutan.

Akan Diproduksi di Indonesia

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menggandeng perusahaan biofarmasi global Takeda untuk mengembangkan ekosistem plasma nasional. Sebagai bagian dari kerja sama tersebut, Takeda ditetapkan sebagai industri farmasi yang dapat menyelenggarakan fraksionasi plasma secara bertahap.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat industri kesehatan nasional sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap pengobatan penting.

"Inisiatif ini mencerminkan komitmen Pemerintah Indonesia untuk membangun industri strategis di sektor kesehatan dan memastikan masyarakat memiliki akses yang lebih baik terhadap pengobatan penting dan inovatif," kata Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan resminya, Senin (13/7/2026).

Sebagai tahap awal, Takeda akan menginvestasikan hingga 30 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp539 miliar dalam dua tahun untuk membangun sejumlah bank plasma di Indonesia. Bank plasma pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.

Selama fasilitas fraksionasi plasma di Indonesia masih dalam tahap pengembangan, plasma yang dikumpulkan akan diproses melalui jaringan manufaktur global Takeda. Selanjutnya, pemerintah bersama perusahaan juga akan mengkaji pembangunan fasilitas produksi obat derivat plasma berteknologi tinggi di dalam negeri.

Apabila seluruh tahapan tersebut berjalan sesuai rencana, Indonesia tidak hanya akan memiliki pasokan terapi yang lebih terjamin bagi pasien, tetapi juga menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang membangun ekosistem plasma nasional secara terintegrasi, mulai dari pengumpulan plasma hingga pengembangan industri biofarmasi.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut