Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Penderita Diabetes Wajib Tahu, Retinopati Diabetik Bisa Datang Tanpa Gejala
Advertisement . Scroll to see content

Mata Mulai Kabur Jangan Dikira Katarak, Bisa Jadi Lebih Berbahaya Retinopati Diabetik

Senin, 20 Juli 2026 - 18:34:00 WIB
Mata Mulai Kabur Jangan Dikira Katarak, Bisa Jadi Lebih Berbahaya Retinopati Diabetik
Banyak penyandang diabetes baru memeriksakan kondisi matanya ketika penglihatan mulai menurun, bahkan tidak sedikit mengira mengalami katarak. (Foto: Mei Sada)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Retinopati diabetik menjadi salah satu komplikasi diabetes yang kerap terlambat terdeteksi karena hampir tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Akibatnya, banyak penyandang diabetes baru memeriksakan kondisi matanya ketika penglihatan mulai menurun, bahkan tidak sedikit yang mengira mengalami katarak.

Perwakilan Universitas Gadjah Mada (UGM), Profesor dr Muhammad Bayu Sasongko, M.Epid., Ph.D., Sp.M mengatakan retinopati diabetik berkembang secara perlahan sehingga sering tidak disadari pasien.

"Alasan paling kuat kenapa harus skrining adalah karena di fase awal ini tanpa gejala. Jadi pasien diabetes itu secara teori setelah lima tahun sudah muncul tanda retinopati awal, yang itu tanpa gejala. Pandangan masih normal, enggak ada gejala apa-apa. Namun ini akan berprogres," katanya dalam Forum Jurnalis Kesehatan Roche Indonesia bersama Kementerian Kesehatan, Senin (20/7/2026).

Dia menjelaskan, apabila kondisi tersebut tidak terdeteksi dan kadar gula darah tidak terkontrol, kerusakan pada retina akan terus berkembang. Penurunan fungsi penglihatan akibat retinopati diabetik pun tidak selalu ditandai dengan pandangan yang langsung buram.

Menurut Prof Bayu, gejala retinopati diabetik bisa muncul sangat halus sehingga sering luput dari perhatian. Salah satunya adalah penurunan kualitas penglihatan yang diibaratkan seperti cahaya lampu 100 watt yang terlihat hanya seterang 80 atau 75 watt.

Selain itu, kemampuan membedakan warna juga dapat berubah. Warna merah misalnya terlihat lebih muda seperti merah muda, sedangkan warna kuning tampak lebih pudar dari biasanya.

"Kalau sudah sampai fase itu, kualitas penglihatan sudah berkurang. Berkurangnya bermacam-macam. Bisa tajam penglihatan berkurang, atau kecerahan berkurang. Jadi kalau lihat lampu 100 watt seperti 80 atau 75 watt. Warna juga bisa berubah, misalnya merah terlihat lebih pink atau warna kuning tampak lebih pudar," ujarnya.

Dia menambahkan, perubahan penglihatan tersebut terjadi secara bertahap sehingga banyak pasien tetap merasa aktivitas sehari-harinya berjalan normal. Kondisi inilah yang membuat retinopati diabetik sering baru diketahui ketika gangguan penglihatan sudah memasuki tahap berat.

Prof Bayu mengungkapkan, tidak sedikit pasien yang datang ke dokter dengan keyakinan dirinya menderita katarak. Padahal setelah menjalani pemeriksaan menyeluruh, penyebab gangguan penglihatannya ternyata adalah retinopati diabetik yang sudah cukup parah.

"'Dok, saya katarak.' Bahkan belum diperiksa dia sudah mendiagnosis sendiri. Sekarang kan zaman AI. Kalau cari di internet 'pandangan mata kabur' dan usia 55 tahun, yang pertama keluar biasanya katarak. Akhirnya datang dengan keyakinan itu. Begitu dicek ternyata gulanya tinggi, ternyata retinopatinya sudah berat," ucapnya.

Sebab itu, Prof Bayu mengingatkan seluruh penyandang diabetes untuk menjalani skrining mata secara rutin, meski belum merasakan keluhan pada penglihatan. Deteksi dini dinilai menjadi kunci untuk mencegah kerusakan retina yang dapat berujung pada gangguan penglihatan permanen.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut