Main Padel Bisa Sebabkan Robekan ACL, Ini Gejala yang Harus Diwaspadai
JAKARTA, iNews.id – Padel dikenal sebagai olahraga yang menyenangkan dan menyehatkan. Namun di balik manfaatnya, olahraga ini juga menyimpan risiko cedera serius, termasuk robekan Anterior Cruciate Ligament (ACL) pada lutut.
Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Primaya Hospital Kelapa Gading, dr Irsan Abubakar, SpOT, Subsp.TL.B.M (K) mengatakan, cedera ACL tidak hanya dialami pemain sepak bola atau basket.
"Orang sering menganggap ACL hanya terjadi pada pemain bola. Padahal olahraga lain yang memiliki gerakan akselerasi dan perubahan arah mendadak, termasuk padel, juga bisa menyebabkan cedera ACL," katanya di podcast Hola Dok, Kamis (4/6/2026).
ACL merupakan salah satu ligamen utama yang berfungsi menjaga stabilitas lutut. "ACL adalah primary stability pada lutut. Ketika ligamen ini mengalami robekan, kestabilan lutut akan terganggu," jelasnya.
Menurut dr Irsan, gerakan berputar, berhenti mendadak, atau perubahan arah secara cepat menjadi faktor yang paling sering memicu cedera tersebut.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
"Biasanya pasien merasa lututnya tidak stabil lagi setelah mengalami cedera," ujarnya.
Robekan ACL sendiri terbagi menjadi dua jenis, yaitu partial tear atau robekan sebagian dan complete tear atau robekan total. Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik khusus seperti Lachman Test dan pemeriksaan MRI.
"Kami harus menilai dulu apakah lututnya stabil atau tidak. Setelah itu MRI membantu melihat tingkat kerusakan ligamen secara detail," kata dr Irsan.
Di kesempatan yang sama, dr Irsan menegaskan bahwa tidak semua kasus ACL harus dioperasi.
"Kalau hanya robekan sebagian dan stabilitas masih baik, bisa dipertimbangkan terapi konservatif seperti fisioterapi. Tetapi jika robek total dan lutut tidak stabil, biasanya perlu rekonstruksi ACL," jelasnya.
Saat ini, operasi rekonstruksi ACL bahkan sudah dapat dilakukan dengan teknik artroskopi minimal invasif.
"Kami menggunakan kamera dengan sayatan yang jauh lebih kecil, sehingga pemulihan bisa lebih baik dibanding teknik konvensional," katanya.
Meski demikian, dr Irsan menegaskan bahwa keberhasilan operasi tidak hanya bergantung pada tindakan bedah.
"Operasi tidak akan sukses tanpa rehabilitasi yang baik. Fase fisioterapi setelah operasi justru memegang peran yang sangat penting agar pasien bisa kembali beraktivitas dan berolahraga," ujarnya.
Editor: Muhammad Sukardi