Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Catat! Menkes Budi Ingatkan Bahaya Saus Kemasan, Ini Alasannya
Advertisement . Scroll to see content

Kabar Baik! Indonesia Segera Punya Bank Plasma Nasional, Pasien Penyakit Langka Diuntungkan

Senin, 13 Juli 2026 - 11:10:00 WIB
Kabar Baik! Indonesia Segera Punya Bank Plasma Nasional, Pasien Penyakit Langka Diuntungkan
Ilustrasi bank plasma nasional. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Indonesia bersiap memasuki babak baru dalam penguatan layanan kesehatan. Pemerintah bersama perusahaan biofarmasi global Takeda akan membangun jaringan bank plasma nasional sebagai bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap produk obat derivat plasma (PODP), terapi penting yang dibutuhkan pasien dengan berbagai penyakit langka hingga gangguan sistem kekebalan tubuh.

Langkah ini dinilai menjadi terobosan karena selama ini ketersediaan PODP di Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri. Padahal, kebutuhan terhadap terapi berbasis plasma terus meningkat seiring bertambahnya angka diagnosis berbagai penyakit yang memerlukan pengobatan tersebut.

Sebagai tahap awal, Takeda akan menginvestasikan hingga 30 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp539 miliar dalam kurun dua tahun untuk membangun sejumlah bank plasma di Indonesia. Bank plasma pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dan menjadi bagian dari jaringan BioLife milik Takeda.

Apa Itu Bank Plasma?

Berbeda dengan bank darah yang menyimpan seluruh komponen darah untuk keperluan transfusi, bank plasma berfokus pada pengumpulan plasma, yaitu bagian cair darah yang mengandung protein penting seperti imunoglobulin, albumin, dan faktor pembekuan darah.

Protein-protein tersebut kemudian diolah melalui proses yang disebut fraksionasi menjadi berbagai produk obat derivat plasma. Obat inilah yang digunakan untuk menangani berbagai penyakit serius, mulai dari hemofilia, gangguan kekebalan tubuh primer (primary immunodeficiency), penyakit saraf autoimun seperti Guillain-Barré Syndrome (GBS) dan Chronic Inflammatory Demyelinating Polyneuropathy (CIDP), hingga kondisi medis lain yang mengancam jiwa.

Selama ini, sebagian besar produk tersebut masih berasal dari luar negeri sehingga pasokannya sangat dipengaruhi kondisi global.

Kehadiran bank plasma nasional diharapkan mampu memperkuat rantai pasok bahan baku untuk produksi PODP sehingga akses pasien terhadap terapi penting menjadi lebih terjamin.

Tak hanya itu, pembangunan ekosistem plasma juga dinilai dapat mempercepat pengembangan industri biofarmasi nasional dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor produk kesehatan berteknologi tinggi.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan pembangunan industri plasma merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan kesehatan nasional.

"Inisiatif ini mencerminkan komitmen Pemerintah Indonesia untuk membangun industri strategis di sektor kesehatan dan memastikan masyarakat memiliki akses yang lebih baik terhadap pengobatan penting dan inovatif," kata Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan resminya, Senin (13/7/2026). 

Dia menambahkan, pemerintah berharap kerja sama tersebut dapat memperkuat sistem kesehatan nasional sekaligus mempersiapkan Indonesia menghadapi tantangan kesehatan di masa depan.

"Melalui kemitraan dengan Takeda, kami berharap dapat memperkuat sistem kesehatan nasional sekaligus mempersiapkan Indonesia menghadapi tantangan kesehatan di masa depan," ujarnya.

Lebih lajut, Kementerian Kesehatan telah menetapkan Takeda sebagai industri farmasi yang dapat menyelenggarakan fraksionasi plasma. Penetapan tersebut memungkinkan perusahaan melakukan pengumpulan plasma sekaligus mempersiapkan proses fraksionasi secara bertahap sebagai bagian dari pembangunan ekosistem industri plasma nasional.

Pada tahap awal, plasma yang berhasil dikumpulkan dari Indonesia akan diproses melalui jaringan manufaktur global Takeda. Sementara itu, pemerintah dan perusahaan akan mengkaji kelayakan pembangunan fasilitas fraksionasi plasma berteknologi tinggi di dalam negeri.

Apabila terealisasi, fasilitas tersebut tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan nasional, tetapi juga berpotensi mendukung pasar internasional.

Presiden Plasma-Derived Therapies Takeda, Ramy Riad, mengatakan perusahaan berkomitmen memperluas akses masyarakat Indonesia terhadap terapi berbasis plasma sekaligus membangun ekosistem yang berkelanjutan.

"Kemitraan ini menunjukkan komitmen Takeda untuk memperluas akses terhadap PODP sekaligus mendukung pembangunan ekosistem plasma yang berkelanjutan di Indonesia," kata Ramy.

Menurut dia, investasi tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan layanan kesehatan, membuka lapangan kerja dengan keterampilan tinggi, serta memperkuat ketersediaan terapi yang mampu menyelamatkan maupun menopang kehidupan pasien.

Jadi yang Pertama di Asia Tenggara

Pemerintah menyebut inisiatif pembangunan ekosistem plasma ini merupakan yang pertama di kawasan Asia Tenggara. Fokusnya bukan hanya membangun jaringan bank plasma, tetapi juga mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi pengumpulan plasma, manufaktur biofarmasi, hingga pengembangan sumber daya manusia.

Seluruh bank plasma nantinya akan menerapkan standar mutu dan regulasi internasional dengan memanfaatkan pengalaman global Takeda dalam pengelolaan donor plasma. Program tersebut juga akan disertai pelatihan tenaga kesehatan, teknisi laboratorium, serta transfer pengetahuan untuk meningkatkan kapasitas SDM nasional.

Secara global, kebutuhan terhadap PODP terus mengalami peningkatan. Terapi ini digunakan untuk berbagai penyakit yang membutuhkan protein plasma sebagai komponen utama pengobatan.

Namun, banyak negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, masih menghadapi tantangan dalam menjamin ketersediaan produk tersebut. Selain keterbatasan pasokan, rendahnya tingkat diagnosis dan minimnya pemahaman mengenai penyakit yang dapat ditangani menggunakan PODP juga menjadi kendala.

Karena itu, pembangunan bank plasma nasional diharapkan tidak hanya memperkuat pasokan bahan baku, tetapi juga mendorong peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya donor plasma serta memperluas akses pasien terhadap terapi yang selama ini masih terbatas.

Selain memberikan manfaat bagi sektor kesehatan, proyek ini diperkirakan membuka peluang kerja baru di bidang kesehatan dan biofarmasi, mulai dari tenaga medis, teknisi laboratorium, hingga tenaga ahli di industri manufaktur obat berteknologi tinggi. Pemerintah juga menilai pembangunan ekosistem plasma dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri kesehatan di masa mendatang.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut