Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Biawak dan Berang-Berang Predator Alami Ikan Sapu-Sapu, BRIN: Jangan Ditangkap! 
Advertisement . Scroll to see content

Ikan Sapu-Sapu Tidak Aman Dikonsumsi? Ini Kata BRIN!

Kamis, 30 April 2026 - 17:06:00 WIB
Ikan Sapu-Sapu Tidak Aman Dikonsumsi? Ini Kata BRIN!
BRIN memperingatkan masyarakat untuk tidak makan ikan sapu-sapu secara rutin. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Isu penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku makanan seperti siomai kembali menjadi sorotan publik. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pun angkat bicara dan menegaskan bahwa ikan tersebut tidak aman untuk dikonsumsi, terutama jika dijadikan santapan rutin.

Perbincangan ini mencuat setelah Pemerintah Kota DKI Jakarta berhasil menangkap sekitar 11 ton ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung. Banyak pihak kemudian mempertanyakan kemungkinan pemanfaatan ikan tersebut sebagai bahan pangan alternatif.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu memiliki sifat bioakumulasi, yakni kemampuan menyerap dan menyimpan zat berbahaya dari lingkungan, termasuk logam berat.

"Logam berat yang terkandung di ikan sapu-sapu kalau dimakan dalam jumlah yang melebihi batas ambang amannya, itu bahaya," ujar Triyanto dalam sesi diskusi di kantornya, Kamis (30/4/2026).

Menurut dia, logam berat tersebut tidak akan hilang meskipun ikan telah diolah menjadi berbagai jenis makanan, termasuk siomay. Hal ini karena sifat logam berat yang menetap di dalam jaringan tubuh ikan.

"Logam berat ini sifatnya bioakumulasi, dia tidak akan berkurang," tegasnya.

Meski demikian, Triyanto menyebut masyarakat tidak perlu panik jika hanya mengonsumsi dalam jumlah kecil atau sesekali. Risiko kesehatan akan meningkat jika konsumsi dilakukan secara rutin dalam jangka panjang.

"Kalau kita makan setiap minggu dalam jumlah besar berturut-turut setiap tahun, nah baru itu mungkin bahaya. Tapi kalau sekali-sekali, masih bisa ditolerir oleh tubuh," jelasnya.

Sebagai langkah pencegahan, BRIN mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dan selektif saat membeli makanan olahan. Konsumen juga disarankan untuk tidak ragu menanyakan bahan baku yang digunakan kepada penjual.

"Yang penting kita lebih peduli, kita tanya sama penjualnya, dagingnya sehat atau tidak. Itu penting untuk memastikan keamanan konsumsi," pungkasnya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tidak semua sumber protein alternatif aman dikonsumsi, terutama jika berasal dari lingkungan yang tercemar.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut