ICCF 2026: Pakar Integrasikan Akupunktur Medik sebagai Pilar Suportif Onkologi Modern
JAKARTA, iNews.id – Selain bedah, radioterapi, dan kemoterapi, akupunktur medik belakangan mulai dilirik sebagai terapi pendamping dalam penanganan kanker di Indonesia. Metode yang identik dengan pengobatan tradisional Tiongkok ini ternyata telah berkembang sebagai cabang ilmu kedokteran yang berpijak pada bukti ilmiah atau Evidence-Based Medicine (EBM).
Hal itu disampaikan Dokter Akupunktur Konsultan Analgesia dan Anestesia, dr. Ekky Sri Rejeki, Sp.Ak(K), dalam Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026 di Hotel Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta, akhir pekan lalu. Menurut dr. Ekky, akupunktur medik sudah punya jenjang pendidikan dokter spesialis di Indonesia, misalnya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).
"Akupunktur dapat menjadi terapi adjuvan yang melengkapi penanganan utama kanker maupun sebagai bagian dari perawatan paliatif untuk membantu mengurangi berbagai keluhan pasien," ujarnya.
Lalu, ia mencontohkan penerapan akupunktur medik pada pasien yang mengalami gangguan suara atau disfonia usai menjalani operasi pengangkatan kelenjar tiroid. Penanganan tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan dokter bedah onkologi sebagai bagian dari pelayanan multidisiplin.
Akupunktur juga terbukti membantu meredakan efek samping kemoterapi. Berbagai penelitian ilmiah mengungkapkan, keluhan nyeri pasien kanker berkurang setelah dilakukan stimulasi titik-titik tertentu di tubuh.
“Contohnya, di area telinga dan kepala, titik-titik di sini merangsang pelepasan endorfin alami tubuh,” jelasnya. Selain nyeri, akupunktur juga mempunyai bukti ilmiah yang cukup kuat dalam membantu mengurangi mual dan muntah akibat efek samping kemoterapi.
Pernyataan tersebut sejalan dengan pemaparan Profesor Yin Ping Shan, ahli pengobatan tradisional Tiongkok yang berpengalaman lebih dari 40 tahun. Profesor Yin Ping Shan mengungkapkan pengobatan tradisional Tiongkok berbasis herbal memiliki sejarah panjang ribuan tahun dalam melawan kanker.
Maka, pengobatan tradisional dan modern harus berjalan berdampingan (integratif) untuk hasil optimal. Apalagi, metode ini efektif dalam menangani efek samping dan komplikasi akibat kemoterapi atau radiasi.
“Pengobatan kanker kerap menyebabkan efek samping serius yang merusak sistem pencernaan dan saraf pasien. Dalam kondisi ini, pengobatan tradisional Tiongkok menawarkan solusi sangat efektif, tidak hanya melancarkan sistem, tetapi juga memperkuat fungsi lambung melalui penyesuaian dosis yang tepat,” tuturnya.
Itu sebabnya, kunci keberhasilan pengobatan tradisional Tiongkok ada pada personalisasi dosis herbal yang menyesuaikan kondisi tubuh pasien. Pendekatan ini dapat meningkatkan efektivitas pengobatan yang sejalan dengan prinsip kedokteran presisi modern.

Selanjutnya, dr. Ekky ingin penelitian akupunktur untuk kanker tidak berhenti di situ. Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan adalah farmako akupunktur, yakni teknik memasukkan bahan obat ke titik-titik akupunktur tertentu.
Kendati demikian, dr. Ekky mengingatkan bahwa setiap metode baru harus melalui uji klinis ketat sebelum diterapkan secara luas.
"Seluruh inovasi tersebut tetap harus melalui proses penelitian yang ketat agar dapat dipastikan keamanan dan efektivitasnya sebelum diterapkan secara luas dalam pelayanan kepada pasien," katanya.
Posisi akupunktur sebagai terapi pendamping pun turut diamini Ketua Kolegium Onkologi Radiasi Indonesia, dr. Endang Nuryadi, Sp.Onk.Rad(K), PhD. Ia menyebut perawatan suportif seperti akupunktur sebagai salah satu pilar penting selain bedah, radioterapi, dan terapi sistemik dalam menunjang kualitas hidup pasien kanker.
Ketua Konsil Kesehatan Indonesia, drg. Arianti Anaya, MKM, pun ikut menegaskan bahwa pengobatan tradisional seperti akupunktur bukan untuk menggantikan pengobatan konvensional, melainkan bersifat mendukung proses pemulihan pasien secara menyeluruh.
Melalui ICCF 2026, kolaborasi multidisiplin dipandang dapat memperkuat pemanfaatan terapi pendukung berbasis bukti ilmiah. Dengan demikian, penanganan kanker di Indonesia tidak melulu fokus pada pengobatan penyakit, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup pasien selama menjalani terapi.
Editor: Rizqa Leony Putri