Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Jangan Panik! 2 Warga Singapura Diduga Kena Hantavirus Ternyata Negatif
Advertisement . Scroll to see content

Hantavirus Bukan Virus Baru, Prof Tjandra Beberkan Faktanya!

Senin, 11 Mei 2026 - 18:42:00 WIB
Hantavirus Bukan Virus Baru, Prof Tjandra Beberkan Faktanya!
Prof Tjandra menjelaskan sejarah Hantavirus di podcast Hola Dok by Trijaya FM. (Foto: Youtube)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Di tengah ramainya kabar outbreak Hantavirus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama, menegaskan Hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru seperti Covid-19.

Menurut Prof Tjandra, virus ini sudah dikenal sejak puluhan tahun lalu dan pertama kali dilaporkan pada manusia sekitar tahun 1970-an di Korea.

"Hanta ini sebenarnya nama sungai di Korea Selatan pada waktu pertama kali keluar. Jadi penting dipahami, ini bukan virus baru, ini bukan seperti Covid-19. Ini sudah ada sejak 1970-an," ujar Prof Tjandra di podcast Hola Dok by Trijaya FM, Senin (11/5/2026).

Dia menjelaskan, kemungkinan virus tersebut bahkan sudah ada sebelum itu, namun baru mulai terdokumentasi secara medis pada manusia di era 1970-an. "Bukan tidak mungkin sudah ada sebelumnya juga, tapi laporan pada manusia itu mulai sekitar 1970-an," lanjutnya.

Prof Tjandra juga mengungkap bahwa banyak virus memang diambil dari nama lokasi pertama kali ditemukan. Ia mencontohkan Virus Nipah yang ternyata berasal dari nama suatu desa.

"Seperti Nipah Virus juga, itu ternyata nama desa. Hanta juga begitu," katanya.

Lebih lanjut, Prof Tjandra menjelaskan bahwa Hantavirus memiliki dua kelompok besar yang berbeda, yakni tipe Asia-Eropa dan tipe Amerika. Menurutnya, kasus yang kini ramai dibahas akibat outbreak di kapal pesiar termasuk jenis yang ditemukan di Amerika dan dikenal lebih berbahaya.

"Yang terjadi sekarang ini adalah tipe Amerika, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS. Pulmonary artinya paru paru," jelasnya.

Jenis tersebut menyerang sistem pernapasan dan memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi. Sementara itu, tipe yang lebih banyak ditemukan di Asia, termasuk Indonesia, dikenal sebagai Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang lebih banyak menyerang ginjal dan menyebabkan 'demam berdarah'.

Ia kemudian menyoroti outbreak di kapal pesiar yang mulai mendapat perhatian dunia sejak April lalu. Kasus tersebut akhirnya dilaporkan ke WHO pada 2 Mei karena dinilai memiliki potensi penyebaran lintas negara.

Menurut Prof Tjandra, ada tiga alasan utama WHO memasukkan kasus itu ke dalam Disease Outbreak News.

"Karena ada banyak kewarganegaraan di kapal, kapal itu transit ke beberapa negara, dan sebagian penumpang sudah turun. Jadi ada potensi penyebaran internasional," jelasnya.

Situasi di kapal pesiar tersebut juga memicu kepanikan setelah sejumlah penumpang mulai membagikan video dan cerita kondisi di dalam kapal melalui media sosial.

"Ada rasa panik dan gelisah karena informasi menyebar cepat sekali di media sosial," katanya.

Meski begitu, Prof Tjandra mengingatkan masyarakat agar tidak langsung panik berlebihan. Ia menekankan bahwa Hantavirus bukan penyakit baru dan dunia medis sebenarnya sudah mengenalnya sejak lama.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut