Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Cabai Bisa Bantu Turunkan Hipertensi, tapi Jangan Asal Konsumsi Ini Perlu Diperhatikan
Advertisement . Scroll to see content

Dokter Ungkap Kepatuhan Pasien Hipertensi Minum Obat hanya 50 Persen

Selasa, 24 Mei 2022 - 19:40:00 WIB
Dokter Ungkap Kepatuhan Pasien Hipertensi Minum Obat hanya 50 Persen
Pasien hipertensi ternyata malas minum obat (Foto: Medical news today)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi tantangan besar dalam dunia kesehatan. Penyakit ini masih memiliki prevalensi tinggi di tingkat global maupun Indonesia. 

Selain faktor risiko, seperti usia, jenis kelamin, genetika, serta gaya hidup tidak sehat, faktor kesadaran untuk memonitor tekanan darah secara rutin dan kurangnya kepatuhan terhadap pengobatan hipertensi membuat kasus hipertensi meningkat.

Studi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, jumlah pasien hipertensi berusia 30-79 tahun telah bertambah dari 650 juta menjadi 1,28 miliar orang, dalam tiga dekade terakhir. Studi ini juga mengungkapkan, sebanyak 53 persen perempuan dan 62 persen pria dengan hipertensi, atau sekitar 720 juta orang, tidak menerima pengobatan yang dibutuhkan.

Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mendapati, hanya separuh (54 persen) pasien hipertensi yang rutin minum obat antihipertensi. Sebanyak 32,27 persen mengatakan tidak rutin minum obat, dan 13,33 persen malah mengaku tidak pernah minum obat sama sekali.  

Spesialis Jantung dr. Devie Caroline mengatakan, kepatuhan minum obat yang kurang optimal merupakan salah satu alasan penderita Hipertensi menjadi tidak terkontrol tekanan darahnya.

“Data menunjukkan hanya sekitar 50 persen dari pasien hipertensi yang patuh minum obat. Banyak faktor yang memengaruhi kepatuhan minum obat," ujar dr Devie Caroline, melalui keterangan virtualnya belum lama ini.

Menurut dr Caroline, ada beberapa alasan pasien hipertensi tidak minum obat, antara lain karena pasien hipertensi merasa sehat, lupa minum obat, mereka memilih obat tradisional dan selain itu takut efek samping obat.

"Oleh sebab itu, diperlukan beberapa strategi supaya pasien hipertensi menjadi patuh minum obat,” ujar dr. Devie. 

Hal senada diungkapkan Ketua Pokja Hipertensi PERKI dr. Badai Bhatara Tiksnadi. Menurutnya, tekanan darah seseorang harus terkontrol dengan target sesuai dengan penyakit penyertanya.

“Pasien hipertensi sebaiknya tetap meminum obat hipertensi yang disarankan dokter untuk menjaga tekanan darah tidak naik. Harus dipastikan, diagnosis hipertensi dilakukan dengan teknik pengukuran yang benar dan akurat," katanya.

Selain obat-obatan, lanjut dr Badai Bhatara, pengendalian tekanan darah dapat dilakukan dengan cara nonfarmakologis, seperti menggunakan alat pengukur tekanan darah digital, pembatasan asupan garam, latihan fisik intensitas sedang yang teratur, dan dengan mencapai berat badan ideal. 

"Pemantauan tekanan darah secara teratur di rumah merupakan cara yang efektif untuk mendeteksi dan mengelola hipertensi untuk mencegah berbagai macam komplikasi kesehatan yang berbahaya, seperti penyakit jantung, stroke, dan kematian,” ujar dr. Badai. 

Sementara itu, Tomoaki Watanabe, Direktur OMRON Healthcare Indonesia mengatakan, dia ingin mengingatkan, monitoring tekanan darah harus diikuti dengan perubahan gaya hidup dan tindakan pengobatan untuk memastikan pengelolaan hipertensi dalam batas normal. 

"Hal ini sejalan dengan misi Omron untuk menciptakan dunia yang bebas dari penyakit kardiovaskular (Going fo zero – melalui perawatan preventif) dengan membiasakan pemantauan tekanan darah secara teratur, mengontrol hipertensi secara aktif dan melakukan langkah-langkah menuju perubahan perilaku untuk mengatasi kebiasaan-kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko sarangan jantung,” kata Tomoaki Watanabe.

Editor: Vien Dimyati

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut