Daging Olahan Marak di Pasaran, Bahaya Kanker Mengintai
JAKARTA, iNews.id – Daging olahan semakin marak di pasaran dan menjadi pilihan praktis masyarakat. Namun di balik kemudahan tersebut, bahaya kanker mengintai jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Momentum Hari Kanker Sedunia atau World Cancer Day 2026 menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap pola makan. Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) mengingatkan bahaya konsumsi makanan ultra-proses, termasuk daging olahan yang kini mudah ditemukan dan siap santap.
Produk seperti sosis, nugget, ham, bacon, hingga daging asap semakin populer karena praktis dan mudah diolah. Sayangnya, makanan tersebut dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit kronis yang serius.
Dikutip dari The Journal of Nutrition, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa daging olahan berhubungan dengan risiko kesehatan yang lebih tinggi meski tidak dikonsumsi secara berlebihan. Para peneliti menemukan adanya peningkatan risiko kanker usus besar, diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, hingga kematian.
Tak hanya kanker kolorektal, konsumsi daging olahan juga disebut dapat meningkatkan risiko kanker lain. Beberapa di antaranya adalah kanker payudara, endometrium, dan paru-paru.
Para peneliti menjelaskan, dampak negatif tersebut diduga berasal dari mekanisme biologis selama proses pengolahan dan pemasakan. Dalam proses itu dapat terbentuk senyawa karsinogenik yang berpotensi memicu pertumbuhan sel kanker.
Selain itu, konsumsi daging olahan juga dikaitkan dengan peradangan kronis dalam tubuh. Gangguan mikrobioma usus dan metabolisme yang terganggu turut berperan dalam memicu resistensi insulin serta meningkatkan risiko gangguan jantung.
Meski demikian, para ahli menekankan pentingnya melihat pola makan secara keseluruhan. Konsumsi daging dapat dibatasi dan diganti dengan sumber protein lain yang lebih sehat seperti protein nabati, ikan, atau unggas.
Menambahkan asupan serat dalam pola makan harian juga menjadi langkah penting. Serat dapat membantu menjaga kesehatan usus dan menurunkan pembentukan zat karsinogen dalam tubuh.
Risiko kanker memang dipengaruhi banyak faktor di luar makanan, seperti genetik dan gaya hidup. Namun perubahan kecil dalam pola makan sehari-hari dinilai dapat membantu menurunkan risiko dan meningkatkan kualitas kesehatan jangka panjang.
Editor: Dani M Dahwilani