Cuaca Panas Ekstrem dan Polusi Tingkatkan Risiko Kematian, Ini Penjelasan Dokter
JAKARTA, iNews.id - Beberapa wilayah di Indonesia menghadapi masalah suhu panas ekstrem belakangan ini, tak terkecuali DKI Jakarta. Bahkan ibu kota tercatat memiliki kualitas udara yang buruk.
Kombinasi suhu panas ekstrem dan polusi udara ternyata memiliki dampak yang jauh lebih berbahaya dibandingkan jika keduanya terjadi secara terpisah. Risiko kesehatan yang muncul bersifat sinergis dan bisa meningkatkan angka kematian secara signifikan.
Ahli Kesehatan Lingkungan dr Dicky Budiman menjelaskan, kondisi ini dikenal sebagai 'synergistic risk', di mana dua faktor lingkungan saling memperkuat dampak buruknya.
"Risikonya bersifat sinergi, artinya lebih berat dibandingkan kalau kejadiannya terpisah," ujarnya saat dihubungi iNews.id, Kamis (30/4/2026).
Suhu di Medan Tembus 40 Derajat Celcius Siang Ini, Terpanas se-Indonesia!
Ia menambahkan, kombinasi tersebut bahkan dapat meningkatkan risiko secara multiplicatif. Artinya bukan sekadar bertambah, tapi dilipatgandakan dampaknya terhadap kesehatan.
Berdasarkan data riset global, kondisi ini berkontribusi pada peningkatan mortalitas harian hingga sekitar 20 persen. Angka ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang dihadapi masyarakat perkotaan saat ini.
DKI Jakarta Diserang Suhu Panas dan Kualitas Udara Buruk Hari Ini!
Tidak hanya itu, risiko rawat inap juga meningkat signifikan. Dokter Dicky menyebutkan bahwa kombinasi panas tinggi dan polusi, khususnya PM2.5, dapat meningkatkan angka rawat inap hingga lebih dari 25 persen.
"Ini bukan hanya soal ketidaknyamanan, tapi sudah berdampak langsung pada sistem kesehatan," jelasnya.
Jabodetabek Diserang Suhu Panas! 4 Penyakit Ini Wajib Diwaspadai
Ia juga menyoroti bahwa kondisi ini sering kali tidak disadari masyarakat sebagai ancaman serius. Padahal, dampaknya bisa sangat cepat dan luas.
"Karena terjadi bersamaan, masyarakat sering tidak menyadari bahwa risiko kesehatannya meningkat drastis," tambahnya.
Dengan kata lain, dr Dicky menegaskan bahwa kombinasi panas dan polusi harus menjadi perhatian utama dalam kebijakan kesehatan dan lingkungan.
Editor: Muhammad Sukardi