Cedera Olahraga Tak Selalu Harus Dioperasi, Ini Penjelasan Dokter
JAKARTA, iNews.id – Cedera saat berolahraga kerap membuat banyak orang panik. Tak sedikit yang langsung mengira operasi menjadi satu-satunya jalan untuk kembali pulih.
Padahal, menurut dokter spesialis ortopedi, sebagian besar cedera olahraga justru dapat ditangani tanpa tindakan bedah apabila mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Subspesialis Cedera Olahraga Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Herryanto Agustriadi Simanjuntak, M.H.Kes., Sp.OT, Subsp. CO, mengatakan cedera olahraga memiliki tingkat keparahan yang berbeda-beda sehingga terapi yang diberikan harus disesuaikan dengan kondisi pasien.
Menurutnya, cedera dapat terjadi pada otot, sendi, ligamen, tulang maupun tulang belakang, tergantung jenis olahraga dan mekanisme cedera yang dialami.
"Cedera olahraga memiliki tingkat keparahan yang berbeda. Sebagian dapat ditangani secara konservatif melalui obat-obatan, fisioterapi, dan rehabilitasi. Namun, pada kondisi tertentu, tindakan operasi mungkin diperlukan untuk memperbaiki struktur yang mengalami kerusakan dan mengembalikan fungsi gerak pasien," ujar dr. Herryanto dalam keterangannya, Senin (20/7/2026).
Ia menjelaskan, terapi konservatif umumnya menjadi pilihan pertama apabila kerusakan jaringan masih tergolong ringan hingga sedang. Pendekatan tersebut bertujuan mengurangi nyeri, mengembalikan fungsi gerak, sekaligus mempercepat proses penyembuhan tanpa operasi.
Namun, apabila ditemukan robekan jaringan yang berat, ketidakstabilan sendi, atau kerusakan struktur yang mengganggu fungsi tubuh secara signifikan, tindakan operasi dapat menjadi pilihan agar pasien dapat kembali beraktivitas secara optimal.
Meski demikian, operasi bukanlah akhir dari proses penyembuhan. Pasien tetap memerlukan rehabilitasi medis agar kekuatan otot, fleksibilitas, keseimbangan, dan fungsi gerak dapat pulih secara bertahap.
Hal senada disampaikan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Seraphim Medical Center, dr. Nahum, Dipl. CIBTAC, Sp.KO. Menurutnya, banyak orang terburu-buru kembali berolahraga setelah rasa sakit menghilang, padahal tubuh belum tentu siap menerima beban aktivitas seperti sebelumnya.
"Pendekatan kedokteran olahraga juga berperan dalam proses back to sport, yaitu pendampingan bertahap setelah cedera agar seseorang tidak hanya bebas dari rasa sakit, tetapi juga memiliki kekuatan, fungsi gerak, kontrol tubuh, dan kesiapan fisik untuk kembali berolahraga," kata dr. Nahum.
Ia menegaskan, keberhasilan penanganan cedera tidak hanya diukur dari hilangnya nyeri, tetapi juga kemampuan tubuh menjalankan fungsi gerak secara normal tanpa meningkatkan risiko cedera berulang.
Karena itu, dokter menyarankan masyarakat tidak mengabaikan cedera yang muncul saat berolahraga. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu menentukan tingkat keparahan cedera sekaligus memilih terapi yang paling tepat, sehingga pemulihan berlangsung optimal dan seseorang dapat kembali berolahraga dengan aman.
Editor: Muhammad Sukardi