Belum Kuat Lari, Japanese Walking Jadi Alternatif bagi Pemula Jaga Kesehatan Jantung
JAKARTA, iNews.id - Olahraga lari kini semakin digemari banyak orang, mulai dari anak muda hingga kalangan usia lanjut. Selain dianggap praktis, olahraga ini juga dikenal efektif menjaga kesehatan jantung dan meningkatkan kebugaran tubuh.
Namun, tidak semua orang terbiasa berlari. Sebagian pemula bahkan merasa cepat lelah atau memiliki kondisi tertentu yang membuat mereka belum mampu melakukan olahraga dengan intensitas tinggi.
Influencer kesehatan sekaligus dokter umum, dr Cecep Hermawan membagikan alternatif olahraga sederhana yang disebut tetap efektif menjaga kesehatan jantung tanpa harus berlari. Tips tersebut dia sampaikan lewat unggahan video di akun Instagram pribadinya.
Dalam video itu, dr Cecep menyarankan metode Japanese Walking bagi orang-orang yang belum terbiasa melakukan olahraga lari.
“Kabar gembira buat yang pengen jantung sehat, tapi belum bisa lari karena alasan apapun. Enggak usah dipaksain kok, kita cukup rutinin trik jalan kaki ini. Namanya Japanese Walking,” kata dr Cecep, dikutip Senin (18/5/2026).
Dia menjelaskan, Japanese Walking dilakukan dengan pola jalan santai selama tiga menit lalu dilanjutkan jalan cepat selama tiga menit. Pola tersebut dilakukan berulang selama kurang lebih 30 menit.
Menurutnya, saat memasuki fase jalan cepat, tubuh akan bekerja lebih keras sehingga jantung mengalami kondisi kekurangan oksigen sementara. Kondisi ini disebut dapat merangsang pembentukan cabang pembuluh darah baru atau angiogenesis.
“Pas jalan cepat, otot jantung bakal sedikit kurang oksigen sementara. Nah, ini murni buat mancing tubuh ngebentuk cabang pembuluh darah baru atau angiogenesis biar aliran oksigen ke jantung makin lancar,” ujar dr Cecep.
Tak hanya baik untuk jantung, metode Japanese Walking juga disebut mampu meningkatkan kapasitas pernapasan dan membuat pembuluh darah lebih fleksibel. Dampaknya, tekanan darah menjadi lebih stabil dan penyerapan gula darah oleh otot bisa berjalan lebih optimal.
“Plus ritme gas rem ini terbukti nambah kapasitas nafas kita. Bikin pembuluh darah lebih lentur buat stabilin tensi dan maksa otot nyerap gula darah lebih optimal,” ujarnya.
dr Cecep juga membagikan indikator sederhana untuk mengetahui apakah seseorang sudah berada di fase jalan cepat. Salah satunya dengan metode tes bicara.
“Patokan jalan cepatnya gimana sih? Pakai tes ngomong aja. Pas ngebut usahain nafas agak ngos-ngosan dan cuma sanggup ngucap satu dua kata,” katanya.
Sementara bagi pengguna smartwatch, fase jalan cepat dapat dilihat dari detak jantung yang mencapai lebih dari 70 persen dari kapasitas maksimal.
Dia menambahkan, ketika memasuki fase jalan santai, napas harus kembali stabil sehingga seseorang bisa berbicara normal atau bahkan bernyanyi.
“Nah, pas jalan santai nafas harus balik tenang dan bisa ngomong lancar atau nyanyi lagi. Biar hasilnya optimal rutinin minimal dua sampai empat kali dalam seminggu,” katanya.
Editor: Dani M Dahwilani