Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Jadwal Buka Puasa Depok 2 Maret 2026, Berapa Menit Lagi?
Advertisement . Scroll to see content

Bahaya Memaksakan Anak Berpuasa, Ahli Gizi Ingatkan Risiko Hipoglikemia

Senin, 02 Maret 2026 - 02:59:00 WIB
Bahaya Memaksakan Anak Berpuasa, Ahli Gizi Ingatkan Risiko Hipoglikemia
Memaksakan anak berpuasa tanpa mempertimbangkan kesiapan fisik dapat memicu berbagai risiko kesehatan. (Foto: AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Memaksakan anak berpuasa tanpa mempertimbangkan kesiapan fisik dapat memicu berbagai risiko kesehatan. Ahli gizi Ihda Hanifatun Nisa mengingatkan orang tua perlu mengawasi secara ketat jika anak mulai menjalani ibadah puasa.

Menurut dia, anak yang belum siap secara fisik berpotensi mengalami berbagai gangguan kesehatan. Kondisi tersebut mulai dari hipoglikemia atau gula darah rendah, dehidrasi, kelelahan berat, hingga penurunan konsentrasi dan daya tahan tubuh.

“Jika asupan energi dan zat gizi tidak tercukupi secara konsisten, dalam jangka panjang bisa mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangan kognitif,” kata Ihda saat diwawancarai jurnalis iNews, Senin (2/3/2026).

Dia menjelaskan, puasa pada anak sebenarnya dapat dilakukan selama kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi. Namun, pengawasan orang tua sangat penting agar anak tidak mengalami kekurangan energi maupun cairan selama berpuasa.

Salah satu masalah kesehatan yang perlu diwaspadai adalah dehidrasi. Kondisi ini dapat muncul ketika tubuh kekurangan cairan akibat tidak mendapatkan asupan minum dalam waktu yang cukup lama.

Ihda memaparkan, terdapat beberapa tanda awal dehidrasi pada anak. Gejalanya antara lain bibir dan mulut terasa kering, tubuh terlihat lemas, aktivitas menurun, serta warna urine menjadi kuning pekat dengan jumlah yang lebih sedikit.

Jika kondisi tersebut tidak segera ditangani, gejalanya bisa semakin berat. Anak bahkan dapat mengalami pusing hebat, jantung berdebar cepat, hingga kulit menjadi kering.

Apabila gejala dehidrasi muncul sebelum waktu berbuka puasa, orang tua disarankan segera menghentikan puasa anak. Langkah tersebut penting dilakukan untuk mencegah risiko komplikasi kesehatan yang lebih serius.

Meski demikian, Ihda menilai puasa tidak otomatis mengganggu tumbuh kembang anak. Hal itu dapat dihindari selama kebutuhan energi, protein, mikronutrien, serta cairan tetap terpenuhi saat sahur dan berbuka.

Dia menekankan pentingnya memastikan anak mendapatkan makanan bergizi seimbang. Menu sahur dan berbuka sebaiknya mengandung karbohidrat, protein, vitamin, mineral, serta cukup cairan untuk menjaga kondisi tubuh tetap stabil.

Namun, jika anak mengalami defisit energi secara berulang, maka dampaknya dapat memengaruhi kesehatan jangka panjang. Kondisi ini termasuk asupan protein yang rendah atau kekurangan zat besi serta mikronutrien penting lainnya.

Kekurangan nutrisi tersebut berpotensi menghambat pertumbuhan linear anak. Selain itu, massa otot dapat berkurang dan fungsi kognitif juga bisa terdampak.

Karena itu, Ihda menyarankan orang tua menerapkan pendekatan bertahap ketika mengenalkan puasa kepada anak. Metode ini dinilai lebih aman dibanding memaksakan anak berpuasa penuh sejak awal.

Pendekatan bertahap dapat dilakukan dengan melatih anak berpuasa setengah hari terlebih dahulu. Setelah anak terbiasa, durasi puasa dapat ditingkatkan secara perlahan.

Selain itu, orang tua juga disarankan memantau status gizi anak secara rutin. Pemantauan tersebut dapat membantu memastikan kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi selama menjalankan ibadah puasa.

Jika diperlukan, orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi. Konsultasi ini bertujuan mendapatkan rekomendasi pola makan yang tepat sesuai kondisi kesehatan anak.

Edukasi mengenai nutrisi juga menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan. Dengan pemahaman yang baik, orang tua dapat membantu anak menjalani puasa secara sehat tanpa mengorbankan proses tumbuh kembangnya.

Melalui pengawasan yang tepat dan pemenuhan gizi yang cukup, anak tetap dapat belajar berpuasa dengan aman. Pendekatan ini sekaligus membantu membangun kebiasaan ibadah sejak dini tanpa menimbulkan risiko kesehatan.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut