Apa Itu Virus Ebola Bundibugyo yang Ditetapkan WHO sebagai Darurat Global?
JAKARTA, iNews.id - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DR Congo) dan Uganda sebagai darurat kesehatan global. Wabah kali ini bukan disebabkan strain Ebola yang umum dikenal, melainkan strain langka bernama Bundibugyo ebolavirus atau BDBV.
Strain ini langsung menjadi perhatian internasional karena hingga kini belum memiliki obat maupun vaksin yang disetujui secara resmi.
WHO menyebut Bundibugyo merupakan salah satu jenis virus Ebola paling berbahaya dan sulit dikendalikan, karena kemampuan penyebarannya yang tinggi serta gejalanya yang kerap menyerupai penyakit tropis lain seperti malaria dan tifus.

Virus Ebola Bundibugyo atau Bundibugyo ebolavirus adalah salah satu spesies virus dalam kelompok Orthoebolavirus dari keluarga Filoviridae. Virus ini menyebabkan penyakit yang disebut Bundibugyo virus disease (BVD).
WHO menjelaskan terdapat tiga jenis virus Ebola yang paling sering memicu wabah besar pada manusia, yaitu Ebola virus (Zaire strain), Sudan virus, dan Bundibugyo virus. Namun, vaksin dan terapi yang sudah tersedia saat ini hanya efektif untuk strain Ebola Zaire, bukan Bundibugyo.
Itulah sebabnya wabah terbaru di Afrika Tengah memicu kekhawatiran besar di kalangan ilmuwan dan tenaga kesehatan dunia.
Virus Bundibugyo pertama kali ditemukan pada 2007 di Distrik Bundibugyo, Uganda. Dari wilayah itulah nama strain ini berasal.
Sejak ditemukan, kemunculan strain ini tergolong sangat jarang. Sebelum wabah 2026, Bundibugyo hanya tercatat memicu wabah besar di Uganda pada 2007-2008 dan di DR Congo pada 2012.
Kini, WHO menyebut wabah terbaru menjadi salah satu penyebaran Bundibugyo terbesar dalam sejarah modern karena telah menyebar lintas negara hingga masuk ke wilayah perkotaan dan area pertambangan dengan mobilitas tinggi.
Yang membuat Bundibugyo sangat mengkhawatirkan adalah belum adanya vaksin maupun terapi khusus yang terbukti efektif. Ya, WHO menegaskan saat ini belum ada vaksin resmi untuk Bundibugyo virus disease, meski berbagai kandidat vaksin masih dalam tahap pengembangan.
Selain itu, Ebola dikenal memiliki tingkat kematian tinggi. WHO mencatat rata-rata fatalitas Ebola mencapai sekitar 50 persen, bahkan dalam beberapa wabah tertentu bisa mencapai 90 persen.
Pada wabah terbaru, sedikitnya 80 orang dilaporkan meninggal dengan ratusan kasus suspek ditemukan di DR Congo dan Uganda.

Virus Ebola Bundibugyo menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, seperti darah, muntahan, air liur, urine, keringat, hingga cairan reproduksi. Penularan juga dapat terjadi melalui benda yang terkontaminasi, termasuk pakaian dan alat medis.
WHO dan CDC menduga kelelawar buah menjadi reservoir alami virus Ebola sebelum akhirnya menular ke manusia.
Sebagai informasi, virus Ebola dapat bertahan pada tubuh korban meninggal, sehingga proses pemakaman tanpa prosedur keamanan ketat bisa mempercepat penyebaran wabah.
CDC menyebut gejala Ebola biasanya muncul 2 hingga 21 hari setelah seseorang terpapar virus. Pada tahap awal, penderita sering mengalami:
- Demam tinggi
- Nyeri otot
- Sakit kepala
- Lemas ekstrem
- Sakit tenggorokan
Namun beberapa hari kemudian kondisi bisa memburuk menjadi:
- Muntah
- Diare parah
- Ruam kulit
- Pendarahan internal maupun eksternal
- Gagal organ
CDC menegaskan tidak semua pasien mengalami pendarahan, sehingga Ebola sering sulit dibedakan dengan penyakit lain pada tahap awal.
WHO menetapkan wabah ini sebagai darurat kesehatan internasional karena penyebarannya dianggap berisiko tinggi lintas negara. Wabah terkini telah menyebar dari DR Congo ke Uganda, bahkan ditemukan kasus di ibu kota Kampala dan Kinshasa.
Africa CDC juga memperingatkan adanya 'transmisi aktif di komunitas', terutama di wilayah tambang yang padat aktivitas manusia dan sulit diawasi.
Selain itu, konflik keamanan di beberapa wilayah terdampak membuat pelacakan pasien dan distribusi bantuan medis menjadi semakin rumit.
Editor: Muhammad Sukardi