Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Ahli Beberkan Cara Mencegah Anak Suka Jajan Sembarangan, Gampang Kok!
Advertisement . Scroll to see content

Angka Anak Stunting di Indonesia Masih Tinggi, Butuh Perhatian Semua Pihak

Kamis, 05 Maret 2026 - 09:58:00 WIB
Angka Anak Stunting di Indonesia Masih Tinggi, Butuh Perhatian Semua Pihak
Kolaborasi lintas sektor menjadi faktor kunci dalam memperkuat upaya pencegahan stunting di Indonesia. (Foto: INews.id)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Pemerintah mencatat prevalensi stunting di Indonesia berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) turun menjadi 19,8 persen pada 2024, dari 21,5 persen pada 2023. Ini menandai penurunan di bawah 20 persen untuk pertama kalinya. 

Meskipun menunjukkan perbaikan signifikan dari 30,8 persen pada 2018, jumlah stunting di Tanah Air masih tinggi. Saat ini ada sekitar 4 juta balita mengalami stunting di berbagai daerah. Lamnglah apa yang harus dilakukan dalam mengurangi anak stunting di Indonesia? 

Plt Direktur Bina Peran Serta Masyarakat Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) Dr Yuni Hastutiningsih mengatakan kolaborasi lintas sektor merupakan faktor kunci dalam memperkuat upaya pencegahan stunting.
 
“Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta memiliki nilai strategis dalam memperluas jangkauan intervensi, mempercepat perubahan perilaku, serta memastikan keberlanjutan program. Sebab itu, mari kita terus memperkuat sinergi menjaga konsistensi dan memastikan bahwa setiap program yang dijalankan benar-benar memberikan dampak nyata bagi keluarga Indonesia,” ujarnya dalam prses conference  Program Pendampingan Gizi 2025 di Jakarta, Rabu (4/3/2026) 

Selain perbaikan indikator pertumbuhan, meningkatkan kapasitas keluarga dan kader dalam menerapkan praktik pemenuhan energi anak, variasi konsumsi, serta pemantauan tumbuh kembang hadru dilakukan secara rutin. Konsistensi pendampingan kader memastikan intervensi tidak berhenti pada pemberian asupan, tetapi berlanjut menjadi kebiasaan makan lebih baik di tingkat rumah tangga sebagai bagian dari upaya pencegahan masalah gizi anak.

​​Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University, Prof. Ali Khomsan mengatakan pendekatan sederhana yang dilakukan dalam Program Pendampingan Gizi 2025 secara konsisten mampu memberikan dampak signifikan. 

"Hasil pemantauan menunjukkan peningkatan indikator berat dan tinggi badan anak, serta penurunan prevalensi underweight sebesar 22,5 persen. Ini menegaskan bahwa intervensi berbasis protein hewani yang dipadukan dengan pemenuhan energi harian dan edukasi keluarga, jika dilakukan secara konsisten dan terpantau, dapat memberikan dampak nyata. Berat badan stagnan merupakan indikator awal risiko gangguan pertumbuhan, sehingga pendekatan preventif menjadi sangat penting,” katanya.

Peningkatan pemahaman keluarga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan praktik gizi. Market Nutritionist Lead PT Nestle Indonesia, Jennifer Handaja menerangkan sebagian keluarga menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan energi dan variasi konsumsi anak secara optimal. 

“Temuan baseline menunjukkan adanya kesenjangan pada pemenuhan energi dan zat gizi mikro penting seperti zat besi dan kalsium. Sebab itu, intervensi difokuskan pada solusi yang realistis dan mudah diterapkan sehari-hari. Melalui edukasi, pendampingan kader, dan monitoring rutin, keluarga menjadi lebih percaya diri dalam memenuhi kebutuhan gizi anak serta menerapkan praktik makan yang lebih baik di rumah,” ujarnya.

Diketahui, Program Pendampingan Gizi 2025 dilaksanakan selama enam bulan, sejak Juli 2025 hingga Januari 2026. Program ini menjangkau 598 keluarga dengan anak berisiko stunting melalui pendampingan 147 kader, serta pembekalan edukasi kepada 520 ibu hamil dan menyusui di Kabupaten Karawang, Batang, dan Pasuruan. 

Program tersebut berhasil menurunkan prevalensi underweight (berat badan kurang) dan severe underweight (berat badan sangat kurang) sebesar 22,5 persen, disertai perbaikan indikator pertumbuhan anak, serta peningkatan pemahaman keluarga terkait pemenuhan energi dan gizi harian.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut