6 Kebiasaan Atlet Ini Wajib Ditiru agar Tubuh Bugar, Dokter Approved!
JAKARTA, iNews.id – Menjadi atlet profesional memang membutuhkan latihan keras. Namun, menurut pakar nutrisi olahraga, performa terbaik seorang atlet justru dibangun dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Vice President of Health and Wellness Herbalife, dr Luigi Gratton, mengatakan banyak orang hanya melihat latihan berat yang dijalani atlet. Padahal, ada berbagai kebiasaan sehari-hari yang menjadi fondasi utama kesehatan dan performa mereka.
"Berdasarkan pengalaman saya selama bertahun-tahun di bidang nutrisi performa olahraga, saya memahami bahwa kebiasaan yang membuat atlet elit benar-benar unggul bukanlah hal-hal yang terlihat spektakuler," kata dr Luigi dalam keterangan resminya, dikutip Rabu (22/7/2026).
"Justru, yang membedakan mereka adalah kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, bahkan pada hari-hari ketika tidak ada yang memperhatikan," tambahnya.
Kabar baiknya, kebiasaan tersebut tidak hanya bisa diterapkan atlet profesional. Siapa pun dapat mulai menerapkannya untuk menjaga tubuh tetap sehat, bugar, dan penuh energi.
Berikut enam kebiasaan atlet elite yang direkomendasikan Dr. Luigi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
1. Selalu Konsumsi Protein di Setiap Waktu Makan
Protein bukan hanya dibutuhkan setelah olahraga. Atlet elite membagi asupan protein sepanjang hari, sekitar 20-40 gram setiap tiga hingga empat jam.
Kebiasaan ini membantu mempertahankan massa otot, mendukung sistem imun, membentuk enzim dan hormon, serta memberikan rasa kenyang lebih lama sehingga pola makan lebih terkontrol.
2. Sesuaikan Karbohidrat dengan Aktivitas
Atlet tidak menghindari karbohidrat, tetapi mengonsumsinya sesuai kebutuhan tubuh.
Setelah latihan berat, mereka mengisi kembali energi dengan karbohidrat. Sementara pada hari dengan aktivitas ringan, porsinya disesuaikan agar tidak berlebihan.
Prinsip yang sama juga dapat diterapkan masyarakat umum sehingga kebutuhan energi tetap terpenuhi tanpa berlebihan.
3. Jangan Menunggu Haus untuk Minum
Menjaga hidrasi merupakan bagian penting dari rutinitas atlet. Menurut Dr. Luigi, rasa haus sebenarnya merupakan tanda tubuh mulai mengalami kekurangan cairan. Karena itu, atlet memiliki jadwal minum yang teratur setiap hari.
Saat berolahraga dalam cuaca panas atau berkeringat banyak, tubuh juga memerlukan elektrolit seperti natrium dan kalium agar keseimbangan cairan tetap terjaga.
4. Tidur 7-9 Jam Setiap Malam
Tidur bukan sekadar waktu beristirahat. Saat tidur, tubuh memperbaiki jaringan otot, melepaskan hormon pertumbuhan, memulihkan sistem saraf, hingga memperkuat daya ingat dan sistem kekebalan tubuh.
Kurang tidur dapat membuat proses pemulihan berlangsung lebih lama sekaligus meningkatkan risiko sakit.
5. Rutin Makan Buah dan Sayuran Berwarna Gelap
Buah beri, bayam, kubis ungu, bit, paprika merah, hingga anggur merah menjadi menu yang sering dikonsumsi atlet.
Makanan tersebut kaya antioksidan yang membantu mengendalikan peradangan, menjaga daya tahan tubuh, sekaligus mendukung pemulihan setelah beraktivitas.
6. Tetap Bergerak saat Rest Day
Hari istirahat bukan berarti menghabiskan waktu untuk rebahan sepanjang hari. Sebaliknya, atlet memilih melakukan active recovery seperti berjalan kaki, yoga, peregangan, bersepeda santai, atau foam rolling.
Aktivitas ringan tersebut membantu melancarkan sirkulasi darah, mempercepat pemulihan otot, sekaligus menurunkan risiko cedera dan overtraining.
Dokter Luigi menegaskan bahwa menjaga kesehatan tidak harus dilakukan dengan cara yang rumit atau mahal. Yang terpenting adalah konsisten menjalankan kebiasaan baik setiap hari.
"Tidak ada rahasia khusus. Tidak rumit. Tidak pula mahal. Yang dibutuhkan hanyalah mengonsumsi protein pada setiap waktu makan, menyesuaikan asupan karbohidrat dengan aktivitas, menjaga hidrasi setiap hari, tidur sekitar delapan jam, mengonsumsi buah dan sayuran berwarna gelap, serta melakukan pemulihan aktif secara konsisten," katanya.
Ia pun menekankan bahwa keberhasilan atlet bukan hanya ditentukan oleh apa yang mereka lakukan saat bertanding, melainkan dari kebiasaan sehari-hari yang terus dijaga.
"Nutrisi atlet elit tidak ditentukan oleh apa yang dilakukan pada hari pertandingan, tetapi oleh kebiasaan yang tidak pernah dilewatkan, bahkan pada hari Selasa yang biasa," tutup dr Luigi.
Editor: Muhammad Sukardi