5 Tahun Produksi Film Pelangi di Mars, Tim Belajar Teknologi dari Nol
JAKARTA, iNews.id – Produksi film Pelangi di Mars memakan waktu panjang hingga lima tahun dengan penggunaan teknologi Extended Reality (XR) dan metode produksi hybrid.
Film Pelangi di Mars disutradarai Upie Guava dan diproduksi Mahakarya Pictures bersama MBK Productions. Proyek tersebut juga didukung Produksi Film Negara (PFN), RANS Entertainment, Guava Film, DossGuavaXR Studio, serta A&Z Films.
Cerita film ini berlatar masa depan pada tahun 2090 dan mengikuti kehidupan seorang anak yang menjadi manusia pertama yang lahir di Planet Mars.
Riset proyek tersebut dimulai sejak awal 2020. Film ini menjadi produksi dengan anggaran terbesar yang pernah dikerjakan Mahakarya Pictures.
Apresiasi Film Na Willa, Wamen Ekraf Irene Umar Singgung Bhinneka Tunggal Ika
Proses syuting menggunakan metode hybrid yang menggabungkan pengambilan gambar nyata dengan lingkungan virtual tiga dimensi.
Teknologi Extended Reality digunakan untuk memproyeksikan latar Planet Mars yang dibuat menggunakan perangkat lunak Unreal Engine ke layar LED besar di studio DossGuavaXR.
Vidi Aldiano Jadi Kejutan Spesial di Film Tunggu Aku Sukses Nanti, Adegannya Bikin Mewek!
Sutradara Upie Guava mengungkap perjalanan produksi film tersebut penuh tantangan karena tim harus mempelajari teknologi baru dari awal.
Lisa BLACKPINK Syuting Film Netflix di Kemang, Polisi: Warga Nggak Sadar
“Rasanya aneh ketika akhirnya film ini selesai. Saya membayangkan perasaan saat menontonnya seperti beban lima tahun terangkat,” kata Upie Guava dalam Gala Premiere Film Pelangi di Mars di Jakarta, Sabtu (14/3/2026).
Dia menjelaskan tim produksi harus membangun infrastruktur teknologi sebelum proses produksi berjalan.
Film Anak Lokal Naik Level! Pelangi di Mars Hadirkan Petualangan XR Penuh Imajinasi
“Kami harus membangun infrastrukturnya dulu, mempelajari teknologinya, membangun sistemnya dari nol,” ujar dia.
Upie Guava juga menyebut tidak ada sekolah khusus yang mengajarkan teknologi tersebut.
Sebagian besar anggota tim mempelajari teknologi produksi secara mandiri melalui berbagai sumber di internet.
“Teknologi ini tidak ada sekolahnya. Sekitar 99 persen tim yang tergabung dalam Pelangi di Mars belajar dari YouTube dan berdiskusi dengan pelaku industri serupa di luar negeri,” kata Upie Guava.
Editor: Abdul Haris