Ketegangan Memuncak! Iran Tutup Selat Hormuz, Kapal Perang AS Mendekat
TEHERAN, iNews.id – Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, memerintahkan pasukan negaranya tetap menutup Selat Hormuz di tengah konflik yang terus meningkat dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Pernyataan tersebut disampaikan melalui siaran televisi pemerintah Iran.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran minyak paling sibuk di dunia. Kawasan tersebut menjadi titik strategis bagi perdagangan energi global sehingga setiap ancaman blokade langsung memicu kekhawatiran pasar internasional.
Dalam pesan publik pertamanya, Mojtaba Khamenei menegaskan Iran harus memanfaatkan posisi strategis Selat Hormuz sebagai alat tekanan terhadap lawan.
“Keinginan masyarakat adalah melanjutkan pertahanan secara efektif. Kami juga harus terus menggunakan pengaruh penutupan Selat Hormuz. Kajian juga dilakukan untuk membuka front lain yang masih sedikit dipahami musuh dan sangat rentan bagi mereka,” demikian isi pernyataan Mojtaba Khamenei yang disiarkan televisi Iran.
Pidato tersebut menjadi pesan publik perdana Mojtaba Khamenei setelah dia menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas akibat serangan militer AS dan Israel ke Iran.
Di tengah ketegangan tersebut, AS meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah. Washington mengumumkan pengiriman sekitar 2.500 prajurit marinir menuju wilayah dekat Iran.
Kapal serbu amfibi USS Tripoli LHA-7 dilaporkan telah berangkat dari Camp Hansen di Okinawa, Jepang. Kapal tersebut membawa ribuan marinir dan menuju kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan militer, USS Tripoli saat ini berada di wilayah timur perairan Taiwan. Kapal itu diperkirakan tiba di perairan Arab dalam waktu sekitar sepekan.
Jika kapal tersebut tiba di kawasan itu, maka AS akan memiliki dua kapal militer besar di perairan Arab bersama kapal induk USS Abraham Lincoln.
Beberapa jam setelah laporan pengiriman pasukan tersebut, AS merilis rekaman yang disebut menunjukkan serangan terhadap Pulau Kharg di Iran. Pulau tersebut menangani sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran.
AS menyatakan setiap target militer di pulau strategis Iran dapat menjadi sasaran operasi militer. Dalam pernyataan yang diunggah di platform Truth Social, Washington menyebut infrastruktur minyak belum menjadi target.
Namun AS memperingatkan fasilitas energi Iran dapat diserang jika Teheran terus memblokade Selat Hormuz.
Konflik antara AS, Israel, dan Iran kini telah berlangsung lebih dari dua pekan tanpa tanda mereda. Ketegangan militer di kawasan tersebut memicu gelombang protes di berbagai negara.
Aksi demonstrasi terjadi di Yerusalem, Israel, tepatnya di dekat kediaman Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Para demonstran mengecam operasi militer Israel terhadap Lebanon dan Iran.
Peserta aksi membawa berbagai poster dan meneriakkan slogan yang menyerukan penghentian dukungan militer kepada Israel serta menghentikan serangan terhadap Iran.
Aksi serupa juga berlangsung di Wina, Austria. Ratusan demonstran turun ke jalan sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Iran.
Para peserta aksi menuntut dihentikannya operasi militer AS dan Israel terhadap Iran. Mereka juga berduka atas korban sipil yang dilaporkan tewas akibat serangan udara di kota Minab.
Media Iran melaporkan sekitar 1.700 orang meninggal sejak serangan dimulai pada 28 Februari.
Editor: Abdul Haris