Siapkan Sistem Pengendalian Banjir, Ditjen SDA Selesaikan 42 Bendungan di Indonesia hingga Tahun 2024
JAKARTA, iNews.id – Menghadapi musim penghujan tahun 2020/2021, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) mempersiapkan pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur sumber daya air. Pihaknya pun akan tetap melanjutkan proyek penyelesaian bendungan sebagai upaya penanggulangan banjir di wilayah Indonesia.
Direktur Jenderal Sumber Daya Air Jarot Widyoko menjelaskan, langkah menengah dan panjang dalam pengendalian banjir adalah penyelesaian 42 bendungan hingga tahun 2024 mendatang. Enam unit di antaranya bendungan di Sumatra dengan kapasitas tampungan 1.843,3 m3/detik, tujuh unit di Sulawesi dengan kapasitas 3.138,3 m3/detik, 17 unit di Jawa dengan daya tampung 4.601,2 m3/detik, dua unit di Kalimantan dengan daya tampung 315,2 m3/detik, serta 10 bendungan di Nusa Tenggara dengan kapasitas 2.998,3 m3/detik.
Nantinya, semua bendungan tersebut diperkirakan mampu mereduksi banjir sebesar 13.458 m3/detik. Sementara itu, terkait pendanaan dan penanganan tanggap darurat 2021, Jarot mengaku telah mengalokasikan dana sebesar Rp450 miliar.
Adapun jumlah tersebut meningkat dari alokasi dana penanganan tanggap darurat tahun 2020 yang hanya sebesar Rp 300 miliar. Penggunaan dana tanggap darurat bencana sebagian akan dilakukan dengan metode padat karya, seperti kegiatan pembuatan tanggul darat dan tebing kritis.
Underpass Kemayoran Tiap Tahun Kebanjiran, Ini Langkah Kementerian PUPR
Adapun langkah kesiapsiagaan lain yang disiapkan untuk jangka panjang adalah terciptanya sistem Fast Respond. Pada sistem tersebut, masyarakat dapat melakukan pelaporan terkait kondisi atau pelaporan kejadian banjir yang dapat dikirimkan melalui WhatsApp (WA) Center maupun penggunaan tagar #Banjir #Kebanjiran di media sosial Twitter.
Nantinya, pelaporan dari masyarakat tersebut akan diterima oleh Pos Pendukung SDA. Kemudian, akan diteruskan ke Pos Siaga Banjir di masing-masing Balai yang juga akan berkoordinasi dengan beberapa instansi terkait seperti BNPB, BPBD, dan Pemda untuk melakukan penanganan bersama.
Jarot menekankan, perlu ada kerja sama dari semua stakeholder untuk menanggulangi banjir. Sebab menurutnya penting untuk melakukan sosialisasi 'kembalikan air ke Bumi' dengan adanya kesadaran dalam pembangunan biopori, sumur resapan atau pun kolam-kolam di wilayah rumah sendiri.
"Ini perlu partisipasi semua stakeholder dan masyarakat. Kami harapkan jadi dorongan moral dan kita gaungkan kembalikan air ke bumi," ujar Jarot dalam kunjungan lapangan Bendungan Ciawi (Cipayung), Bogor, Jawa Barat pada Rabu (11/11/2020).
Editor: Ranto Rajagukguk