Revolusi Industri 4.0, Darmin: Kita Tidak Bisa Menghindarinya
JAKARTA, iNews.id - Revolusi industri generasi keempat atau revolusi industri 4.0 di mana sektor industri terintegrasi secara online tak bisa dihindari dan harus dihadapi. Untuk itu, revolusi tersebut harus dijawab sesegera mungkin dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.
“Revolusi industri 4.0, apa pun juga kita harus mencermati. Kita tidak bisa menghindarinya,” kata Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam acara Seninar Nasional Outlook Industri 2018, di Hotel Borobudur Jakarta, Senin (11/12/2017).
Darmin menambahkan, untuk menghadapi revolusi industri 4.0, kapasitas sumber daya manusia (SDM), hingga pembiayaan menjadi persoalan yang cukup krusial. Namun, hal terpenting dari itu semua adalah bagaimana meningkatkan kualitas SDM.
“Rasanya paling krusial adalah SDM-nya yang harus kita tangani. Soal pendanaan itu relatif, rasanya kita cukup mampu ekonomi kita menyediakannya,” ujar dia.
Dia menyatakan, pemerintah sejatinya telah berupaya mendorong kualitas SDM di Tanah Air. Namun, proses untuk memaksimalkan hal itu butuh tahapan dan memakan waktu.
“Pemerintah sudah punya langkah walaupun untuk mewujudkan dalam skala besar ternyata bukan main,” kata Darmin.
Revolusi indutri 4.0 memang mengedepankan otomasi dalam proses produksi industri yaitu memanfaatkan tenaga robotik yang terhubung dengan internet dalam pengoperasiannya. Di Indonesia, industri yang sudah siap menjalankan revolusi industri 4.0 antara lain industri petrokimian, makanan dan minumman, semen, dan otomotif.
Revolusi industri 4.0 pertama kali dicetuskan pada 2011 oleh Jerman dan kemudian menjadi tema utama pada World Economic Forum (WEF) 2016 di Davos, Swiss. Sejumlah negara yang telah memiliki program-program untuk mendukung industrinya menuju revolusi tersebut antara lain Jerman, Inggris, Amerika Serikat, China, India, Jepang, Korea, dan Vietnam.
Darmin mengatakan, perkembangan digital saat ini memang tak bisa lagi dibendung. Untuk itu, industri diminta cermat menghasilkan produk-produk yang unggul meski dalam hal teknologi masih kalah bersaing.
“Soal digital ini, kita harus cermat bisa memilih apa saja yang kita bisa unggul. Kalau kita lihat apa yang dominan diperdagangkan oleh marketplace dunia, produk yang bisa kita hasilkan memang bukan yang teknologinya tinggi. Itu harus diakui. Tapi ada hal yang skalanya luar biasa, misalnya produk karet dari mobil dan sebagainya,” ucap Darmin.
Editor: Ranto Rajagukguk