Jaga Performa Neraca Perdagangan, Airlangga Beberkan Empat Faktor Kunci yang Harus Dicermati
JAKARTA, iNews.id - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan ada empat faktor kunci yang harus dicermati untuk menjaga performa neraca perdagangan Indonesia.
Menurut dia, performa neraca perdagangan Indonesia cukup resilience di tengah pandemi Covid-19 dan hal itu perlu diapresiasi. Seperti diketahui, Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan sebesar 1,32 miliar dolar Amerika Serikat (AS) pada Juni 2021.
Hal itu sekaligus menandai surplus neraca perdagangan selama 14 bulan berturut-turut, justru ketika Indonesia menghadapi tekanan perekonomian akibat dampak pandemio Covid-19. Bahkan secara historis, sepanjang 2020 surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir, dengan mencatatkan nilai sebesar 21,62 miliar miliar.
"Namun, untuk menjaga keberlanjutan surplus perdagangan ke depan, ada empat faktor kunci yang perlu terus dicermatike depan,” ungkap Airlangga Hartarto, di Jakarta, Kamis (15/7).
Menko membeberkan, empat faktor kunci untuk menjaga performa neraca perdagangan Indonesia, yaitu stabilitas pertumbuhan permintaan global khususnya pada pasar utama, dan peran dan fungsi perwakilan perdagangan (Perwadag) dalam mendorong peningkatan ekspor.
Selanjutnya, perlu dicermati pula dinamika perkembangan harga dan volume ekspor komoditas utama dan potensial; dan strategi pemerintah dalam menjaga keseimbangan pertumbuhan impor khususnya pada komponen impor konsumsi.
Dia mengungkapkan, surplus neraca perdagangan pada Juni 2021, khususnya ditopang oleh beberapa komoditas nonmigas andalan Indonesia, yaitu lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72).
Namun di sisi lain, surplus neraca perdagangan ditekan oleh beberapa komoditas yang mengalami defisit, utamanya berasal dari reaktor nuklir, ketel, mesin dan peralatan mekanis (HS 84), mesin dan perlengkapan elektris serta bagiannya (HS 85), serta plastik dan barang daripadanya (HS 39).
Berdasarkan data BPS per 15 Juli 2021, nilai ekspor-impor terjaga sepanjang Juni 2021, dimana nilai ekspor tercatat 18,55 miliar dolar AS dan impor 17,23 miliar dolar AS.
"Nilai ekspor di Juni 2021 ini, mencatatkan rekor tertinggi sejak Agustus 2011, sedangkan nilai impor merupakan tertinggi sejak Oktober 2018," ujar Airlangga Hartarto.
Dia menjelaskan, jumlah ekspor tersebut meningkat 54,46 persen secara tahunan (yoy), yaitu dari US$12,01 miliar di Juni 2020 menjadi 18,55 miliar dolar As di Juni 2021. Sedangkan impor naik 60,12 persen dari 10,76 miliar dolar AS di Juni 2020 menjadi 17,23 miliar dolar AS di Juni 2021.
Ekspor Indonesia ini, lanjutnya, memiliki performa yang lebih baik dibandingkan negara-negara Asia lainnya, seperti Korea Selatan (39,8 persen yoy), Taiwan (25,6 persen yoy), dan Vietnam (20,4 persen yoy).
Menurut Menko, ekspor nonmigas masih menjadi andalan dengan kontribusi mencapai 93,32 persen atau 17,31 miliar dolar AS dari total ekspor di Juni 2021. Ekpor nonmigas itu, terdiri atas ekspor industri (75,91 persen), tambang (15,70 persen), dan pertanian (1,75 persen). Sementara ekspor migas menyumbang 6,64 persen saja atau sebesar 1,23 miliar dolar AS.
Peningkatan ekspor juga dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas global. Beberapa komoditas global yang mengalami peningkatan harga antara lain batu bara (Australia) meningkat sebesar 148,94 persen (yoy) dan CPO meningkat sebesar 54,99 persen (yoy). Kenaikan harga di kedua komoditas ekspor utama Indonesia ini telah berkontribusi terhadap peningkatan kinerja ekspor di Juni 2021.
Dia menambahkan, capaian kinerja Neraca Perdagangan juga dipengaruhi oleh perkembangan aktivitas manufaktur negara mitra dagang utama, terutama Amerika Serikat dan Tiongkok.
Indeks PMI Manufaktur di kedua negara tersebut masih berada di level ekspansif, yakni 62,1 (AS) dan 51,3 (Tiongkok). Masih tingginya permintaan global telah mendorong aktivitas produksi dalam negeri untuk memenuhi hal itu, sehingga indeks PMI Manufaktur Indonesia berada di level 53,5 dan kinerja ekspor Indonesia meningkat di Juni 2021.
“Secara garis besar, pada Juni 2021, Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan nonmigas dengan beberapa negara, yakni Amerika Serikat (1,34 miliar dolar AS), Filipina (0,65 miliar dolar AS), dan Malaysia (0,32miliar dolar AS)," kata Airlangga Hartarto.
Sementara itu, Indonesia mengalami defisit dengan Tiongkok (-0,60 miliar dolar AS), Australia (-0,48miliar dolar AS), dan Thailand ( -0,33 miliar dolar AS).
Editor: Jeanny Aipassa